Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan Bibit Siklon Tropis 95S yang terpantau aktif di sekitar Laut Arafuru, tepatnya di wilayah barat Papua Selatan.
Melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC), BMKG memantau Bibit Siklon Tropis 95S yang mulai terdeteksi pada Senin, 15 Desember 2025, pukul 07.00 WIB. Sistem cuaca ini berada di posisi 9,5 derajat Lintang Selatan dan 134,6 derajat Bujur Timur atau di sekitar Laut Arafuru, barat Papua Selatan.
Kecepatan angin maksimum di sekitar pusat sistem tercatat mencapai 15 knot atau sekitar 28 kilometer per jam, dengan tekanan udara minimum sekitar 1006 hPa.
“Potensi Bibit Siklon Tropis 95S berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan juga berada pada kategori rendah,” demikian penjelasan BMKG dalam unggahannya di Instagram, Senin (15/12).
Meski peluang berkembang menjadi siklon tropis dinilai rendah, BMKG menegaskan keberadaan sistem ini tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan di wilayah Indonesia timur.
BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di wilayah Papua Selatan. Sementara itu, Maluku Tenggara diperkirakan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat meningkatkan risiko genangan air dan banjir lokal.
Selain hujan, Bibit Siklon Tropis 95S juga berpotensi memicu gelombang laut dengan ketinggian sekitar 1,25 hingga 2,5 meter atau kategori moderate sea. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi di perairan Laut Arafuru serta Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur (NTT).
BMKG mengimbau masyarakat pesisir dan pengguna jasa pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi dan cuaca buruk di wilayah terdampak.
Selain Bibit Siklon Tropis 95S, BMKG juga terus memantau dua bibit siklon lainnya, yakni 92S dan 93S, serta Siklon Tropis Bakung yang masih aktif di sekitar perairan dekat Indonesia. Sistem-sistem tersebut dinilai memberikan dampak tidak langsung terhadap cuaca ekstrem dan kondisi perairan di Indonesia dalam 24 jam ke depan.
BMKG menjelaskan Siklon Tropis Bakung terbentuk dari Bibit Siklon Tropis 91S sejak 12 Desember pukul 19.00 WIB. Saat ini, posisinya berada di sekitar 9,9 derajat Lintang Selatan dan 92,4 derajat Bujur Timur atau di Samudra Hindia barat daya Lampung.
Kecepatan angin maksimum di sekitar sistem ini mencapai 60 knot atau sekitar 110 kilometer per jam, dengan tekanan udara minimum sekitar 984 hPa. BMKG memprediksi intensitas Siklon Tropis Bakung akan melemah dalam 24 jam ke depan, namun masih berada pada kategori 2 dan bergerak ke arah barat daya menjauhi wilayah Indonesia.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 93S mulai terbentuk pada 11 Desember 2025. Sistem ini terpantau berada di posisi 13,0 derajat Lintang Selatan dan 112,5 derajat Bujur Timur atau di Samudra Hindia selatan Jawa Timur, dengan kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot dan tekanan minimum sekitar 1007 hPa.
“Potensi Bibit Siklon Tropis 93S memiliki peluang rendah untuk menjadi siklon tropis dalam periode 24 jam ke depan,” ujar BMKG.
Adapun Bibit Siklon Tropis 92S mulai terbentuk pada 10 Desember dan saat ini berada di sekitar 4,4 derajat Lintang Selatan dan 91,7 derajat Bujur Timur atau di Samudra Hindia barat Bengkulu. Kecepatan angin maksimum sistem ini tercatat sekitar 15 knot dengan tekanan udara minimum sekitar 1008 hPa.
BMKG menyatakan Bibit Siklon Tropis 92S juga memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan.

