Makassar — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengenang masa kejayaan lifting minyak Indonesia yang pernah mencapai 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari pada 1996–1997.
Saat itu, konsumsi domestik sekitar 500 ribu barel per hari sehingga Indonesia mampu mengekspor sekitar 1 juta barel per hari. Kondisi tersebut, kata Bahlil, membuat Indonesia sempat menjadi anggota OPEC, dengan kontribusi sektor minyak mencapai 43 persen terhadap APBN.
Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada Sidang Dewan Pleno BP HIPMI di Makassar, Minggu (15/2).
Namun setelah reformasi, menurut Bahlil, lifting minyak terus mengalami penurunan dan dalam satu dekade terakhir tidak pernah mencapai target asumsi APBN.
“Alhamdulillah, kemarin untuk pertama kali dalam 10 tahun terakhir, target APBN 605 ribu barel per hari bisa tercapai. Realisasi lifting kita sekitar 605 ribu koma 3 barel per hari,” ujarnya.
Meski mulai menunjukkan perbaikan, Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Saat ini impor minyak mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Total impor energi—meliputi BBM, minyak mentah, dan LPG—mencapai sekitar Rp520 triliun.
Bahlil menegaskan tanpa terobosan strategis, Indonesia akan sulit mewujudkan kedaulatan energi. Ia juga menyinggung bahwa ketergantungan impor memberi keuntungan bagi pihak tertentu yang diuntungkan dari kondisi tersebut.
Untuk meningkatkan produksi, pemerintah menyiapkan sekitar 110 blok migas yang akan dilelang. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan sekaligus mendorong swasembada energi nasional.
“110 blok baru ini untuk mendorong ketahanan energi dan swasembada energi. Saya sudah minta,” katanya.
Selain itu, pada tahun ini proyek di bawah koordinasi SKK Migas dan kontraktor kontrak kerja sama diperkirakan mencapai sekitar 42 miliar dolar AS atau lebih dari Rp600 triliun. Seluruh peluang tersebut, lanjut Bahlil, terbuka secara profesional dan transparan.
Ia juga menetapkan kebijakan afirmatif bahwa proyek dengan nilai di bawah Rp100 miliar tidak boleh sepenuhnya dikerjakan kontraktor dari Jakarta.
“Kasih pekerjaan itu kepada anak-anak daerah di mana lokasi itu ada,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan pelaku usaha daerah harus siap secara profesional dan tidak hanya mengandalkan proposal tanpa kesiapan teknis maupun manajerial.
“Di dunia migas itu bicara profesional. Ini peluang, silakan dimanfaatkan,” pungkasnya.

