Jakarta – Bertambahnya usia sering kali diiringi perubahan dalam kebiasaan sosial. Nongkrong hingga larut malam, menghadiri berbagai acara, atau sekadar berbasa-basi yang dulu terasa menyenangkan, kini mulai berkurang. Apakah kamu merasakan hal yang sama?

Fenomena ini tergolong wajar. Seiring waktu, banyak orang menyadari lingkar pertemanan tidak lagi seluas dulu. Ajakan berkumpul semakin jarang, energi untuk bersosialisasi menurun, bahkan keinginan keluar rumah terasa berbeda.

Perubahan ini bukan semata-mata karena kesibukan, melainkan bagian dari proses alami dalam prioritas hidup, pengalaman, serta kondisi fisik dan mental yang ikut berubah.

Mengutip laporan dari Psychology Today, sebuah penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bersosialisasi dapat menurun akibat perubahan cara kerja dan konektivitas otak seiring bertambahnya usia. Jaringan saraf yang berkaitan dengan memori dan kesadaran diri cenderung melemah, sementara jaringan yang memicu stres emosional menjadi lebih aktif. Dampaknya, interaksi sosial bisa terasa lebih melelahkan dibandingkan saat masih muda.

Jika di usia 20-an banyak orang menikmati rutinitas berkumpul dan memperluas jaringan pertemanan, memasuki usia 30-an dan seterusnya preferensi sosial kerap berubah. Waktu malam yang dulu identik dengan hangout kini lebih sering digunakan untuk beristirahat di rumah.

Berikut lima alasan mengapa seseorang cenderung makin malas bersosialisasi seiring bertambahnya usia:

1. Prioritas Hidup Berubah

Tanggung jawab pekerjaan, keluarga, dan urusan pribadi menyita lebih banyak waktu serta energi. Akhir pekan yang dulu digunakan untuk bertemu teman kini terasa lebih berharga untuk beristirahat atau berkumpul bersama keluarga inti.

Melansir Clever Dude, seiring bertambahnya usia, banyak orang menjadi lebih selektif dalam menggunakan energinya. Mereka memilih interaksi yang bermakna dibanding sekadar keramaian tanpa kedekatan emosional.

2. Perubahan Lingkungan dan Fase Hidup

Bertambahnya usia juga berarti menghadapi dinamika hubungan. Ada teman yang pindah kota, sibuk dengan keluarga masing-masing, atau menjauh karena perbedaan fase hidup.

Situasi ini kerap menimbulkan kesan seolah jumlah teman berkurang, padahal yang terjadi lebih pada pergeseran kualitas hubungan daripada kuantitasnya.

3. Mencari Ketenangan

Bagi sebagian orang, menjauh dari keramaian adalah cara menjaga ketenangan. Acara besar atau pertemuan penuh basa-basi dapat terasa menguras energi.

Mengutip A Conscious Rethink, banyak individu yang semakin dewasa justru lebih menikmati percakapan mendalam dalam kelompok kecil dibanding interaksi di tengah keramaian.

4. Faktor Kesehatan dan Kondisi Mental

Kondisi fisik turut memengaruhi intensitas bersosialisasi. Nyeri kronis, gangguan tidur, atau stamina yang menurun membuat aktivitas sosial terasa lebih berat.

Selain itu, kecemasan sosial maupun depresi dapat menurunkan keinginan untuk berinteraksi. Dalam beberapa kasus, menarik diri bukan sekadar preferensi, melainkan tanda adanya tekanan emosional atau ketidakpuasan hidup.

5. Menjadi Lebih Selektif

Mengutip Tiny Changes Matter, menjadi lebih tertutup tidak selalu berarti antisosial dalam arti negatif. Dalam psikologi, istilah antisosial memiliki makna berbeda dan berkaitan dengan gangguan kepribadian tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang sebenarnya hanya menjadi lebih selektif.

Seiring bertambahnya usia, ritme hidup yang lebih tenang sering kali terasa lebih nyaman. Kedamaian, kestabilan, dan hubungan yang berkualitas menjadi pilihan utama dibanding sekadar memperbanyak relasi.