Jakarta — Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan bahwa serangan militer Washington ke Iran berpotensi memicu perang besar yang meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Khamenei di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington, menyusul ancaman perang yang sebelumnya dilontarkan Presiden AS Donald Trump.

“Jika AS memulai perang kali ini, dampaknya akan meluas ke seluruh kawasan,” tegas Khamenei dalam pertemuan di Teheran menjelang peringatan ke-47 Revolusi Islam Iran 1979, Minggu (1/2), seperti dikutip dari Anadolu.

Dalam kesempatan itu, Khamenei juga menanggapi pengerahan kapal induk dan kapal perang AS ke Teluk Persia. Ia menyebut langkah tersebut sebagai pola lama yang terus diulang oleh Washington.

Menurutnya, para pejabat AS kerap menyampaikan klaim bahwa “semua opsi ada di meja,” termasuk opsi militer. Pernyataan semacam itu, kata Khamenei, tidak akan menggoyahkan rakyat Iran.

“Sekarang orang ini pun terus mengklaim ‘kami membawa kapal perang’ dan sebagainya,” ujar Khamenei merujuk pada Donald Trump. “Bangsa Iran tidak boleh takut. Rakyat kami tidak akan terpengaruh oleh ancaman-ancaman seperti itu,” lanjutnya.

Sebelumnya, Trump melalui media sosial mengklaim bahwa sebuah “armada” besar tengah menuju Iran dan mendesak Teheran untuk segera melakukan negosiasi. Pernyataan tersebut memicu spekulasi luas terkait kemungkinan serangan militer serta meningkatnya aktivitas diplomatik di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak berniat menjadi pihak yang memulai perang dan “tidak berencana menyerang negara mana pun.” Namun, ia memperingatkan bahwa Iran akan “memberikan pukulan telak kepada siapa pun yang menyerang atau mengganggu” kedaulatannya.

Terkait aksi protes anti-pemerintah yang terjadi belakangan ini, Khamenei menyebut demonstrasi tersebut sebagai “upaya kudeta” yang gagal. Ia menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut dengan tujuan menghancurkan pusat-pusat strategis pemerintahan Iran.

Di tengah menguatnya retorika perang, muncul pula sinyal meredanya ketegangan. Pejabat senior Iran Ali Larijani menyatakan bahwa “kerangka kerja terstruktur” untuk proses negosiasi mulai terbentuk dan terus bergerak maju. Pernyataan itu kemudian disusul klaim Trump kepada wartawan bahwa Iran mulai “berbicara secara serius” dengan Washington.

Larijani juga diketahui baru melakukan perjalanan ke Moskow untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin. Meski isi pertemuan belum diungkap ke publik, sejumlah pihak menduga Rusia berperan sebagai mediator dalam upaya meredakan krisis antara Iran dan Amerika Serikat.