JAKARTA – Kenaikan harga smartphone di berbagai segmen diperkirakan akan mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia. Jika tren ini terus berlanjut, konsumen diprediksi akan lebih berhati-hati dalam membeli perangkat baru bahkan menunda mengganti ponsel mereka.
Sejak awal 2026, sejumlah produsen ponsel menaikkan harga produk terbaru mereka. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak krisis chip, khususnya komponen RAM, yang terjadi secara global sejak akhir 2025.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengatakan kenaikan harga tersebut tidak hanya terjadi pada ponsel, tetapi juga perangkat elektronik lain seperti laptop.
Menurut Esther, lonjakan harga berpotensi mendorong masyarakat untuk menunda pembelian perangkat baru atau beralih ke opsi yang lebih ekonomis, seperti membeli ponsel bekas.
“Harga ponsel baru meningkat maka untuk mengikuti kebutuhan dan lifestyle biasanya konsumen beralih ke pasar bekas dengan membeli HP bekas atau menunda ganti HP,” kata Esther, Kamis (5/3).
Ia menambahkan, apabila kenaikan harga terus terjadi sementara pendapatan masyarakat tidak meningkat, maka konsumen akan lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok dibandingkan kebutuhan tersier seperti smartphone.
“Karena harga barang naik sementara pendapatan riil turun maka kemungkinan permintaan terhadap barang juga berkurang,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyoroti perbedaan dampak kenaikan harga pada segmen ponsel flagship dan low-end.
Menurutnya, segmen flagship mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, meskipun minat konsumen terhadap perangkat kelas atas tetap meningkat seiring perkembangan teknologi.
Sejumlah produsen yang merilis ponsel flagship pada awal 2026 antara lain Xiaomi, Apple, Samsung, dan Huawei.
“Untuk high-end nampaknya meningkat peminatnya. Dengan meningkatnya minat ponsel high-end, juga akan meningkatkan pasar barang bekas untuk ponsel high-end,” kata Nailul.
Ia menjelaskan pasar tersebut umumnya berasal dari kalangan kelas menengah yang ingin memperbarui perangkat mereka. Setelah membeli ponsel baru, perangkat lama biasanya dijual kembali di berbagai platform media sosial atau marketplace.
Di sisi lain, pada segmen low-end, Nailul memprediksi produsen akan menghadirkan model baru dengan spesifikasi yang relatif sama seperti generasi sebelumnya, namun dengan harga yang lebih tinggi.
“Pasar low-end akan cenderung kualitas serupa, namun harganya meningkat dengan model yang berbeda,” ujarnya.
Meski demikian, ia memperkirakan segmen low-end tetap akan memiliki pasar besar di Indonesia, terutama di daerah luar kawasan Jabodetabek.
Sebelumnya, sejumlah ponsel yang dirilis pada 2026 mengalami kenaikan harga dibandingkan generasi sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi di semua segmen, mulai dari entry-level hingga flagship, dengan rentang peningkatan sekitar 10 hingga 25 persen.
Sebagai contoh, seri entry-level dan midrange seperti Xiaomi Redmi Note 15 Series dan Oppo Reno 15 Series mengalami kenaikan harga mulai dari sekitar Rp200 ribu hingga Rp700 ribu.
Sementara itu, lini flagship seperti Samsung Galaxy S26 Series dan Xiaomi 17 Series dilaporkan mengalami kenaikan harga antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta dibandingkan generasi sebelumnya.

