Pola Serangan Diduga “Many to One”
Dari analisis teknis, pola transaksi yang digunakan pelaku dinilai rapi dan terstruktur. Sistem diduga menggunakan algoritma otomatis yang terus mencoba transfer hingga berhasil.
“Perintahnya sederhana, transfer sejumlah dana ke exchange, kalau berhasil ulangi, kalau gagal pindah ke rekening lain. Itu pola otomatis,” jelasnya.
Dalam dunia keamanan transaksi, pola ini dikenal sebagai skenario many to one, yaitu dana dari banyak rekening dikumpulkan ke satu atau beberapa tujuan utama.
“Dana dari banyak rekening dikumpulkan ke beberapa wallet utama, lalu dipusatkan lagi. Ini pola yang biasa dipakai dalam kejahatan finansial terorganisir,” katanya.
Dugaan Keterlibatan Internal Masih Didalami
Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi terkait pelaku utama. Namun, lambatnya respons, banyaknya transaksi yang lolos, serta pola terstruktur membuat dugaan keterlibatan internal masih didalami.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PPATK, dan aparat penegak hukum terus melakukan penelusuran terhadap seluruh wallet yang telah teridentifikasi.
Kasus ini menjadi salah satu dugaan peretasan perbankan terbesar di daerah, dengan nilai transaksi mencapai miliaran rupiah dan ribuan transaksi dalam waktu kurang dari satu hari.

