Jakarta – Pemukim Israel terus melakukan aksi kekerasan terhadap warga Palestina dan properti mereka di Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel.
Kantor berita Palestina, WAFA, melaporkan beberapa warga Palestina terluka akibat serangan dan pembakaran yang dilakukan pemukim Israel pada akhir pekan ini.
Merespons kejadian tersebut, militer Israel (IDF) mengonfirmasi insiden itu dan mengecam keras tindakan kekerasan. IDF bersama kepolisian Israel diklaim telah diterjunkan ke lokasi untuk mengamankan situasi.
“Tadi malam, pasukan IDF dan polisi perbatasan dikerahkan ke beberapa desa Palestina… menyusul laporan tentang warga sipil Israel yang melakukan tindakan pembakaran terhadap bangunan dan properti, serta terlibat dalam kerusuhan di daerah tersebut,” demikian pernyataan IDF yang dikutip dari AFP, Minggu (22/3).
“Pasukan keamanan mengutuk kekerasan dalam bentuk apa pun dan akan terus bertindak untuk menjaga keamanan penduduk dan ketertiban umum di daerah tersebut,” imbuhnya.
WAFA memberitakan aksi kekerasan itu terjadi pada Sabtu (21/3) malam. Rumah-rumah dan kendaraan milik warga Palestina di desa Fandaqumiya, di selatan Jenin, dibakar oleh pemukim Israel.
Berdasarkan keterangan saksi, sekelompok besar pemukim tiba-tiba menyerbu desa tersebut dan melakukan perusakan hingga pembakaran properti warga Palestina. Warga yang mencoba mencegah serangan tersebut mengalami luka-luka.
Serangan di Fandaqumiya ini merupakan salah satu dari rangkaian kekerasan yang dilakukan pemukim Israel maupun aparat zionis di Tepi Barat sepanjang akhir pekan. Insiden lainnya terjadi di kota Seilat al-Dhahr, juga di selatan Jenin, di mana beberapa rumah warga Palestina diserang dan dibakar, dan seorang warga mengalami luka-luka akibat penyerangan fisik.
Kepresidenan Palestina mengecam “serangan-serangan teroris oleh kelompok koloni Israel” terhadap desa, komunitas, dan perkemahan di Tepi Barat. Kepresidenan Palestina menekankan bahwa aksi kekerasan ini merupakan eskalasi serius dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah Israel.
Kepresidenan menambahkan bahwa pembunuhan warga sipil, pembakaran properti, dan kekerasan terorganisir terjadi di bawah perlindungan pasukan Israel, dengan dukungan pemerintah sayap kanan Zionis yang ekstremis.
Mengutip AFP, kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina meningkat tajam sejak dimulainya perang di Timur Tengah. Perang ini dipicu setelah Israel bersama Amerika Serikat melakukan serangan ke Iran pada akhir Februari lalu atau awal Ramadan 1447 Hijriah.
Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina yang berbasis di Ramallah, enam warga Palestina telah ditembak mati oleh pemukim di Tepi Barat sejak 1 Maret. Kekerasan di wilayah yang diduduki Israel sejak 1967 ini meningkat tajam setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel, yang memicu agresi besar-besaran Israel ke Gaza.
Berdasarkan laporan AFP, kementerian kesehatan Palestina mencatat setidaknya 1.050 warga Palestina tewas sejak dimulainya perang Gaza, termasuk militan dan puluhan warga sipil. Sementara pihak Israel melaporkan 45 warga Israel, termasuk tentara dan warga sipil, tewas akibat serangan Palestina atau selama operasi militer Israel.

