Jakarta — Pemerintah Iran dengan tegas membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menyebut Teheran mulai melunak dan bersedia berunding untuk menghentikan konflik yang telah memasuki bulan kedua.

Mengutip AFP, bantahan tersebut disampaikan melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei. Ia menegaskan bahwa klaim yang disampaikan Trump tidak sesuai dengan fakta.

“Pernyataan Trump tentang permintaan Iran untuk gencatan senjata adalah salah dan tidak berdasar,” ujar Baqaei, dikutip pada Rabu (1/4) malam WIB.

Penolakan ini menjadi salah satu dari beberapa bantahan yang sebelumnya telah disampaikan Iran, menyusul serangan yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel sejak akhir Februari lalu.

Sebelumnya, Trump menyatakan Iran menunjukkan sikap melunak dan memberi sinyal kesiapan untuk duduk di meja perundingan guna menghentikan perang. Ia juga mengisyaratkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menjadi pihak yang mendorong perubahan sikap tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Rabu (1/4).

“Presiden rezim baru Iran, yang jauh kurang radikal dan jauh lebih cerdas daripada para pendahulunya, baru saja meminta gencatan senjata kepada Amerika Serikat!” tulis Trump.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat akan mempertimbangkan langkah tersebut dengan syarat jalur pelayaran minyak global di Selat Hormuz kembali terbuka, aman, dan bebas dilalui.

Trump juga menyampaikan ancaman bahwa jika jalur strategis tersebut tidak dibuka, maka AS akan terus melancarkan serangan terhadap Iran.

“Sampai saat itu, kami akan membombardir Iran hingga hancur lebur atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!,” ujarnya.

Di sisi lain, Trump sebelumnya disebut membuka kemungkinan untuk mengakhiri perang meskipun jalur perdagangan minyak global di Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal.

Mengutip laporan The Times of Israel, salah satu sumber di pemerintahan AS menyebut Trump telah menyampaikan kepada para penasihatnya bahwa penghentian perang bisa dipertimbangkan terlebih dahulu, sementara pembahasan pembukaan akses Selat Hormuz dilakukan kemudian.

Sumber tersebut juga menyebut bahwa Trump dan timnya menilai upaya membuka jalur tersebut membutuhkan waktu lebih lama dari target awal, yakni sekitar empat hingga enam pekan.

Sebagai informasi, Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan ke Iran sejak 28 Februari. Artinya, konflik kini telah melewati lebih dari empat pekan, mendekati batas waktu yang sebelumnya disebut Trump, yakni dua hingga tiga pekan untuk menghentikan operasi militer.