Jakarta — Tidak semua lagu memberikan efek menenangkan. Pada sebagian orang, irama musik tertentu justru dapat memicu rasa cemas, meski bagi pendengar lain lagu yang sama terasa nyaman.

Fenomena ini terjadi karena musik memiliki pengaruh kuat terhadap otak, hormon, hingga memori emosional. Akibatnya, respons setiap individu terhadap lagu bisa sangat berbeda.

Melansir Cleveland Clinic, dokter bedah saraf endovaskular Farah Fourcand menjelaskan bahwa musik mampu memengaruhi kesehatan fisik dan mental, termasuk ingatan, emosi, serta pola pikir. Dalam kondisi tertentu, irama, tempo, maupun lirik lagu dapat memicu respons emosional negatif seperti kecemasan.

Beberapa genre musik, lirik tertentu, atau tempo yang terlalu cepat diketahui lebih berpotensi memperburuk gejala kecemasan dan depresi. Hal ini membuat lagu yang populer sekalipun bisa terasa mengganggu bagi sebagian orang.

Sementara itu, Mental Mantras menyebutkan bahwa lagu yang berkaitan dengan pengalaman traumatis atau momen negatif dapat memunculkan kembali kenangan emosional yang tidak nyaman. Musik bekerja erat dengan memori, sehingga satu nada saja mampu membawa seseorang kembali ke situasi tertentu di masa lalu.

Respons emosional terhadap musik memang kompleks. Melodi, ritme, dan harmoni mampu memicu berbagai perasaan melalui pola dan strukturnya. Saat mendengarkan musik, otak juga melepaskan neurotransmiter seperti dopamin yang berperan dalam mengatur suasana hati.

Berikut beberapa alasan mengapa lagu tertentu bisa memicu kecemasan:

1. Stimulasi berlebihan pada amigdala
Menurut Farah, musik dapat menstimulasi amigdala, bagian otak yang mengatur emosi dan rasa takut, serta berperan dalam pengambilan keputusan dan kontrol diri. Ritme yang terlalu cepat, tidak harmonis, atau perubahan nada yang mendadak dapat membuat otak bereaksi berlebihan, seolah menghadapi ancaman.

2. Membangkitkan memori traumatis
Otak menghubungkan musik dengan pengalaman masa lalu melalui sistem limbik. Lagu yang diputar saat seseorang mengalami stres atau trauma dapat memunculkan kembali memori tersebut, lengkap dengan emosi negatif yang menyertainya.

3. Efek overstimulasi saraf
Musik yang terlalu keras, kompleks, atau memiliki banyak lapisan suara dapat menyebabkan sistem saraf bekerja berlebihan. Kondisi ini membuat individu dengan ADHD atau sensitivitas tinggi terhadap suara lebih rentan mengalami kecemasan.

4. Memicu kebiasaan merenung berlebihan
Mengutip Manning Family Children, musik tertentu dapat mendorong seseorang terjebak dalam pikiran negatif. Lirik atau melodi yang melankolis bisa memperkuat kebiasaan merenung berlebihan, yang dalam jangka panjang dapat memperburuk kecemasan dan depresi.

Di sisi lain, musik juga memiliki efek terapeutik. Lagu dengan tempo lambat, harmoni lembut, dan melodi menenangkan dapat membantu menurunkan hormon stres kortisol, memperlambat detak jantung, serta menciptakan rasa rileks.

Karena itu, penting untuk mengenali respons tubuh dan emosi saat mendengarkan musik. Lagu yang menenangkan bagi satu orang belum tentu memberikan efek yang sama bagi orang lain.

Menyesuaikan pilihan musik dengan kondisi dan preferensi pribadi menjadi kunci agar musik tetap memberikan manfaat tanpa memicu kecemasan. Dengan memahami cara tubuh merespons musik, pendengar dapat lebih bijak memilih lagu yang menenangkan sekaligus menghindari musik yang berisiko menimbulkan stres.