Jakarta — Asisten pribadi aktor Matthew Perry, Kenneth Iwamasa, resmi dijatuhi hukuman 41 bulan penjara oleh pengadilan federal Amerika Serikat pada Rabu (27/5).

Vonis tersebut dijatuhkan atas keterlibatan Iwamasa dalam memasok dan menyuntikkan ketamin secara berulang kepada Perry, termasuk dosis terakhir yang menyebabkan aktor tersebut meninggal dunia akibat overdosis fatal pada Oktober 2023.

Selain hukuman penjara, seperti diberitakan Variety pada Rabu (27/6), Hakim Distrik AS Sherilyn Peace Garnett juga menjatuhkan denda sebesar US$10.000 atau sekitar Rp178,76 juta kepada Iwamasa.

Iwamasa diketahui telah mengenal Matthew Perry sejak 1992 dan mulai menjadi asisten pribadinya pada 2022 dengan gaji mencapai US$150.000 per tahun. Ia menjadi terdakwa kelima sekaligus terakhir yang menerima vonis dalam kasus tersebut.

Sebelum dijatuhi hukuman, Iwamasa telah mengaku bersalah pada Agustus 2024 atas dakwaan konspirasi distribusi ketamin yang menyebabkan kematian dan cedera serius.

Jaksa menyebut Iwamasa mengetahui riwayat kecanduan narkoba yang dialami Perry, meskipun dirinya tidak memiliki latar belakang medis untuk menyuntikkan obat keras tersebut.

Dalam dokumen persidangan, jaksa menegaskan bahwa “alih-alih membantu Perry mempertahankan kesembuhannya, [Iwamasa] justru menjadi fasilitator dan pemasok obat-obatannya.”

Dokumen pengadilan juga mengungkap bahwa sejak September 2023, Iwamasa bersekongkol dengan beberapa pihak, termasuk dokter Salvador Plasencia dan konselor obat-obatan Erik Fleming.

Plasencia diketahui menjual 20 vial ketamin beserta alat suntik senilai US$57.000 kepada mereka, sekaligus mengajarkan cara penyuntikannya kepada Iwamasa.

Meski sempat melihat Perry mengalami reaksi tubuh kaku akibat suntikan ketamin, Iwamasa tetap melanjutkan pemesanan obat tersebut. Saat itu, Plasencia bahkan sempat memperingatkan dengan mengatakan, “Jangan lakukan itu lagi.”

Iwamasa kemudian mencari pasokan lain dari Fleming, yang mendapatkan ketamin dari bandar bernama Jasveen Sangha atau yang dikenal dengan julukan “Ketamine Queen.”

Pada 28 Oktober 2023, Iwamasa menyuntikkan sedikitnya tiga dosis ketamin kiriman Sangha yang kemudian berujung pada kematian Perry.

Sementara itu, Sangha, Plasencia, dan Fleming telah lebih dulu dijatuhi hukuman penjara federal masing-masing selama 15 tahun, 2,5 tahun, dan 2 tahun setelah mengaku bersalah dalam kasus narkotika tersebut.

Plasencia juga telah menyerahkan izin praktik kedokterannya pada September 2025.

Pada hari kematian Matthew Perry, Iwamasa sempat menghubungi layanan darurat 911. Namun, ia diketahui menyembunyikan riwayat suntikan ketamin saat menjalani pemeriksaan polisi.

Ia juga terbukti menghilangkan barang bukti terkait penggunaan obat tersebut di rumah Perry beberapa hari sebelum kematian sang aktor. Dalam proses penyelidikan, Iwamasa bahkan sempat menghubungi Fleming untuk memastikan bahwa dirinya telah “menghapus semuanya.”

Tindakan tersebut bertentangan dengan tanggung jawab resminya sebagai asisten pribadi yang bertugas mengatur perawatan medis dan memastikan Perry mengonsumsi obat sesuai resep yang sah.