JAMBI – Ketua DPD Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Jambi, Robinson Hutapea, meminta sekolah mengembangkan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang lebih kreatif selama penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Menurut Robinson, penyesuaian kegiatan pembelajaran diperlukan menyusul penurunan kualitas udara di Jambi. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), kualitas udara pada musim kemarau dan Karhutla telah berada di atas ambang 150, bahkan pada 18 September 2026 disebut mencapai angka 425 atau berada pada kategori berbahaya.
Pemerintah kemudian menerbitkan surat edaran penyesuaian kegiatan pembelajaran sebagai langkah melindungi kesehatan peserta didik dari paparan kabut asap, salah satunya dengan pelaksanaan PJJ atau pembelajaran daring.
Robinson menilai kondisi tersebut harus direspons sekolah dengan mempersiapkan guru agar pembelajaran daring tidak sekadar memindahkan metode belajar di ruang kelas ke layar telepon genggam atau laptop.
“Pembelajaran daring bukan sekadar memindahkan papan tulis ke layar HP atau laptop, guru berceramah di depan laptop kemudian siswa hanya disuruh menyalin,” ujarnya.
Mantan Kepala SMAN 6 Kota Jambi itu mengatakan kepala sekolah bersama tim manajemen sekolah juga perlu melakukan monitoring terhadap keberlangsungan pembelajaran daring.
Menurutnya, KBM kreatif menuntut perubahan paradigma guru, dari sekadar pemberi tugas menjadi fasilitator yang memahami kondisi siswa, termasuk kejenuhan selama menjalani pembelajaran dari rumah.
“Meski asap menutup jarak pandang, semangat belajar tidak boleh ikut tertutup,” katanya.
Robinson menambahkan, guru perlu memiliki keterampilan tambahan dalam memanfaatkan berbagai perangkat dan platform pembelajaran digital.
“Seorang guru harus memiliki keterampilan ekstra, terutama dalam memanfaatkan alat bantu belajar online seperti Zoom Meeting, video call, dan platform pembelajaran digital lainnya,” tuturnya.
Selain kemampuan teknologi, kata Robinson, guru juga perlu memiliki literasi pembelajaran yang kuat agar mampu menciptakan proses belajar yang inklusif, interaktif, dan tidak membebani siswa.
Sekolah, lanjutnya, juga harus memberikan perhatian kepada siswa yang tidak memiliki perangkat pembelajaran daring maupun akses internet yang memadai. Menurut dia, perlu disiapkan alternatif pembelajaran agar tidak terjadi pengabaian hak belajar bagi sebagian siswa.
“Kabut asap boleh memaksa kita belajar dari rumah, tetapi tidak boleh memaksa kita berhenti berpikir kreatif. Sebenarnya ini bukan hal baru karena para guru sudah memiliki pengalaman saat masa Covid-19,” ujarnya.
Robinson juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembelajaran dari rumah bukan hanya menjadi tanggung jawab guru dan siswa. Orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi dan mendukung proses belajar anak di rumah.
Ia berharap kondisi Karhutla segera dapat diatasi sehingga kegiatan pendidikan dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.
“Sembari kita berdoa agar hujan turun dan Karhutla segera berakhir, kita percaya langit kelabu pasti kembali biru,” katanya.

