Jakarta — Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak memahami perasaan, membangun kepercayaan diri, dan belajar mengelola emosi. Namun, tanpa disadari, sejumlah kebiasaan dalam pola asuh dapat menghambat perkembangan emosional anak.
Tindakan yang dilakukan orang tua terkadang berangkat dari niat melindungi atau mendisiplinkan anak. Namun, cara yang kurang tepat dapat membuat anak merasa tidak didengarkan, takut melakukan kesalahan, atau meragukan kemampuan dirinya sendiri.
Mengenali kebiasaan tersebut bukan berarti orang tua harus merasa bersalah. Justru, memahami kesalahan yang mungkin terjadi dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki pola komunikasi dan pengasuhan.
Lantas, apa saja kesalahan orang tua yang dapat menghambat perkembangan emosional anak?
1. Mengabaikan Perasaan Anak
Salah satu kesalahan yang dapat menghambat perkembangan emosional anak adalah mengabaikan atau meremehkan perasaannya.
Kalimat seperti “Jangan menangis,” “Kamu tidak apa-apa,” atau “Itu bukan masalah besar” mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terlalu sering digunakan, anak dapat merasa emosinya tidak penting.
Orang tua sebaiknya mendengarkan dan mengakui perasaan anak terlebih dahulu. Misalnya, dengan mengatakan, “Mama tahu kamu sedang kecewa.”
Dengan cara tersebut, anak dapat belajar bahwa perasaan sedih, marah, atau takut merupakan hal yang wajar dan dapat dibicarakan.
2. Selalu Menyelesaikan Masalah Anak
Orang tua tentu ingin melindungi anak dari kegagalan dan rasa kecewa. Namun, terlalu sering membantu atau mengambil alih masalah anak dapat membuatnya kesulitan belajar mandiri.
Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan mencari solusi sendiri. Orang tua tetap dapat mendampingi tanpa langsung memberikan jawaban atau menyelesaikan masalah tersebut.
3. Memberikan Kasih Sayang Secara Bersyarat
Anak dapat merasa dirinya hanya disayangi ketika mendapatkan nilai bagus, berprestasi, atau berperilaku sesuai keinginan orang tua.
Kondisi tersebut dapat membuat anak takut gagal dan terus mencari pengakuan dari orang lain.
Orang tua dapat memisahkan perilaku anak dari nilai dirinya. Ketika ada perilaku yang perlu diperbaiki, orang tua tetap dapat menyampaikannya sambil menunjukkan bahwa kasih sayang kepada anak tidak berubah.
4. Menerapkan Aturan yang Tidak Konsisten
Aturan yang berlaku pada hari ini tetapi diabaikan pada hari berikutnya dapat membuat anak bingung. Anak membutuhkan batasan yang jelas dan konsisten agar merasa aman.
Orang tua tidak harus membuat terlalu banyak aturan. Beberapa aturan penting dapat dipilih dan diterapkan dengan tenang serta konsisten.
5. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Ucapan seperti “Mengapa kamu tidak seperti kakak?” atau “Lihat temanmu, dia lebih pintar,” dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.
Kebiasaan membandingkan anak juga dapat memengaruhi rasa percaya dirinya. Karena itu, perkembangan anak sebaiknya dilihat berdasarkan kemampuan dan proses yang sedang dijalaninya.
Orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha serta kemajuan yang telah dicapai anak.
6. Melampiaskan Stres kepada Anak
Anak dapat peka terhadap perubahan suasana hati orang tua. Ketika orang tua sering berteriak, mudah marah, atau menunjukkan stres secara berlebihan, anak dapat ikut merasa cemas.
Karena itu, orang tua juga perlu belajar mengelola emosi. Ketika sedang terlalu marah, mengambil jeda sebelum kembali berbicara dengan anak dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah respons yang berlebihan.
7. Kurang Meluangkan Waktu untuk Quality Time
Kesibukan sehari-hari terkadang membuat interaksi antara orang tua dan anak hanya berkaitan dengan perintah, tugas, sekolah, dan aturan.
Padahal, anak juga membutuhkan waktu untuk merasa didengarkan dan dihargai. Quality time tidak harus dilakukan melalui kegiatan yang besar atau mahal.
Mengobrol sebelum tidur, bermain bersama, atau mendengarkan cerita anak selama beberapa menit dapat menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan.
Orang Tua Tidak Harus Selalu Sempurna
Menjadi orang tua bukan berarti harus selalu melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Kesalahan dalam pola asuh dapat terjadi, tetapi orang tua tetap dapat mengenali dan memperbaikinya.
Hal yang penting adalah kemauan untuk memahami perasaan anak dan memperbaiki cara berkomunikasi. Dengan komunikasi yang lebih baik, anak dapat memiliki ruang untuk belajar mengenali, memahami, dan mengelola emosinya.

