JAKARTA – Lingkungan di sekitar rumah ternyata dapat berkaitan dengan kualitas tidur seseorang. Sebuah penelitian di Jepang menemukan bahwa orang yang tinggal di kawasan dengan rasa keterlingkupan atau sense of enclosure yang lebih tinggi cenderung mengalami lebih sedikit gejala insomnia dan memiliki durasi tidur lebih lama.

Rasa keterlingkupan merujuk pada kesan bahwa suatu ruang memiliki batas yang jelas. Kesan ini dapat terbentuk dari keberadaan bangunan, deretan pepohonan, pagar, maupun elemen lain yang membingkai ruang secara vertikal dan horizontal.

Lingkungan yang terasa terdefinisi tersebut dapat memberikan kesan aman, nyaman, dan intim bagi penghuninya.

“Penelitian tentang tidur selama ini berpusat pada bidang medis, tetapi lingkungan di sekitar rumah seseorang mungkin juga terkait erat,” ujar Daisuke Matsushita, profesor studi lingkungan perumahan di Universitas Metropolitan Osaka, seperti dilansir The Mainichi pada Senin (12/10/2026).

Penelitian Melibatkan Lebih dari 1.000 Responden

Matsushita bersama tim peneliti mempelajari hubungan antara lanskap di sekitar rumah dan kualitas tidur melalui dua pendekatan.

Pertama, mereka melakukan survei terhadap 1.089 orang berusia 40–59 tahun yang sehari-hari melakukan perjalanan pulang-pergi untuk bekerja ke Tokyo.

Kedua, peneliti mengumpulkan sekitar 210 ribu gambar lingkungan di sekitar rumah peserta melalui fitur Street View pada Google Maps. Gambar-gambar tersebut kemudian dianalisis menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengidentifikasi berbagai elemen lanskap, seperti bangunan, langit, pepohonan, dan objek lainnya.

Tim juga melatih AI menggunakan sekitar 1,55 juta titik data yang telah dievaluasi oleh 90 ribu orang. Penilaian tersebut mencakup persepsi terhadap lanskap jalan, termasuk kesan aman, suasana, dan keindahannya.

Tiga Faktor Lingkungan yang Dianalisis

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengukur tiga aspek utama lingkungan di sekitar tempat tinggal.

1. Rasa keterlingkupan

Aspek ini mengukur seberapa besar bagian bidang pandang yang ditempati elemen vertikal, seperti bangunan dan pepohonan. Elemen-elemen tersebut dapat membentuk kesan bahwa ruang di sekitar seseorang memiliki batas yang jelas.

2. Visibilitas ruang hijau

Faktor ini berkaitan dengan seberapa besar bagian bidang pandang yang ditempati vegetasi, misalnya pepohonan di sepanjang jalan.

3. Kemudahan berjalan kaki secara visual

Aspek ini menilai sejauh mana lingkungan jalan memiliki elemen yang mendukung pejalan kaki, seperti trotoar dan pagar pembatas jalan.

Hasil pengukuran lingkungan tersebut kemudian dianalisis bersama hasil penilaian tidur menggunakan metode internasional yang mengukur gejala insomnia dan rasa kantuk pada siang hari.

Lingkungan dengan Keterlingkupan Tinggi Berkaitan dengan Lebih Sedikit Gejala Insomnia

Hasil analisis menunjukkan bahwa orang yang tinggal di lingkungan jalan dengan tingkat keterlingkupan lebih tinggi cenderung memiliki lebih sedikit gejala insomnia dan durasi tidur lebih lama.

Peneliti juga menemukan bahwa lanskap jalan yang dinilai lebih aman cenderung berkaitan dengan durasi tidur yang lebih panjang.

“Secara statistik telah terbukti bahwa orang yang tinggal di tempat dengan rasa keterlingkupan yang tinggi memiliki kualitas tidur yang lebih baik,” kata Matsushita.

Meski demikian, temuan tersebut menunjukkan hubungan statistik antara karakteristik lingkungan dan kualitas tidur. Hasil ini tidak serta-merta membuktikan bahwa rasa keterlingkupan secara langsung menyebabkan seseorang tidur lebih nyenyak.

Kualitas tidur juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lain. Karena itu, hasil penelitian perlu dipahami sesuai dengan metode dan cakupan penelitian yang dilakukan.

Temuan Bisa Menjadi Pertimbangan dalam Perencanaan Kota

Menurut Matsushita, hasil penelitian tersebut berpotensi dimanfaatkan dalam perencanaan kota maupun sebagai pertimbangan individu ketika memilih tempat tinggal.

Lingkungan dengan jalan yang tidak terlalu lebar, rasa keterlingkupan yang nyaman, ruang hijau yang memadai, serta lalu lintas yang moderat dinilai dapat menjadi bagian dari perencanaan kawasan yang mendukung kesehatan dan kualitas tidur.

“Lingkungan dengan jalan yang tidak terlalu lebar, rasa keterlingkupan yang nyaman, banyak ruang hijau, dan lalu lintas yang moderat dapat berkontribusi pada perencanaan kota yang meningkatkan kesehatan dan kualitas tidur,” tutur Matsushita.

Temuan ini menambah perspektif bahwa kualitas lingkungan tempat tinggal tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan visual dan kemudahan beraktivitas, tetapi juga berpotensi berhubungan dengan aspek kesehatan, termasuk tidur.