Jakarta — Selama lebih dari satu abad sejak 1800-an, setiap generasi umumnya menunjukkan peningkatan kemampuan dibanding generasi sebelumnya. Namun, Generasi Z (Gen Z) disebut menjadi generasi pertama yang memiliki kemampuan kognitif lebih rendah dibanding orang tua mereka.
Pernyataan ini disampaikan oleh ilmuwan saraf kognitif, Jared Cooney Horvath, dalam pemaparannya di hadapan Kongres AS.
“Fakta menyedihkan yang harus dihadapi generasi kita adalah ini: anak-anak kita kurang mampu secara kognitif daripada kita pada usia mereka,” ujar Horvath, seperti dilansir dari Upworthy.
Penggunaan Teknologi Jadi Sorotan
Horvath menilai meluasnya penggunaan teknologi digital, baik di lingkungan sekolah maupun rumah, menjadi faktor utama penurunan kemampuan tersebut. Ia menyebut pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran mulai masif diperkenalkan sejak 2010.
Berdasarkan data dari 80 negara yang menerapkan teknologi digital di sekolah, performa siswa tercatat mengalami penurunan yang signifikan.
Siswa yang menggunakan komputer sekitar lima jam per hari untuk kegiatan belajar diketahui memiliki nilai lebih rendah.
“Nilai lebih rendah lebih dari dua pertiga standar deviasi dibandingkan anak-anak yang jarang atau tidak pernah menggunakan teknologi di sekolah,” tambahnya.
Dampak Gawai dan Media Sosial pada Otak
Di luar sekolah, penggunaan gawai secara berlebihan juga menjadi perhatian serius. Para ahli memperingatkan bahwa konsumsi media sosial yang tinggi dapat memicu percepatan penuaan otak.
Fenomena ini berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan otak terhadap rangsangan dopamin dari arus informasi yang terus-menerus.
Ahli neurosains kognitif dari Massachusetts Institute of Technology, Earl Miller, menjelaskan kecenderungan tersebut.
“Kita adalah makhluk yang berpikiran sempit dan ketika semua informasi ini datang kepada kita, kita ingin mengonsumsi semuanya dan sulit untuk mematikan keinginan itu,” ujarnya, seperti dikutip dari National Geographic.
Selain itu, usia biologis otak tidak selalu sejalan dengan usia kronologis seseorang. Proses penuaan organ tubuh dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan geografis, serta gaya hidup. Kondisi otak yang menua lebih cepat dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan di masa depan.
Pendekatan Baru Pendidikan di Denmark
Sebagai respons terhadap fenomena ini, pemerintah Denmark mulai menerapkan kebijakan baru di dunia pendidikan. Sejak tahun ajaran 2025/2026, siswa diminta menyerahkan perangkat seperti ponsel, tablet, dan laptop sebelum kegiatan belajar dimulai.
Penggunaan teknologi digital sebagai alat bantu ajar juga dihentikan. Sekolah kembali mengandalkan metode konvensional, seperti buku teks fisik, lembar kerja, dan tugas menulis.
Kebijakan ini tidak hanya berlaku di dalam kelas, tetapi juga pada kegiatan ekstrakurikuler yang membatasi penggunaan perangkat digital. Bahkan, terdapat Hari Tanpa Ponsel nasional yang mendorong masyarakat untuk tidak menggunakan gawai selama satu hari.
Hasilnya, produktivitas dan performa siswa dilaporkan meningkat. Selain itu, kepercayaan diri mereka juga mengalami perbaikan, mengingat penggunaan gawai berlebih sebelumnya dikaitkan dengan rendahnya rasa percaya diri serta penurunan kesehatan mental.

