JAKARTA – Demam mulai turun, tubuh terasa lebih nyaman, dan pasien terlihat seperti mulai pulih. Kondisi tersebut mungkin membuat keluarga bernapas lega. Namun, pada demam berdarah dengue (DBD), turunnya suhu tubuh tidak selalu berarti kondisi pasien sudah aman.

Justru pada fase tertentu, pasien dengue dapat mengalami perburukan kondisi dengan cepat. Karena itu, keluarga perlu memahami perjalanan penyakit dan mengenali tanda bahaya agar pasien tidak terlambat mendapatkan pertolongan.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pada fase kritis dengue, suhu tubuh dapat turun dan pasien terlihat seperti mulai membaik. Padahal, pada periode tersebut dapat terjadi kebocoran plasma yang berisiko menyebabkan syok dengue.

“Pada fase awal, DBD dapat sulit dibedakan dari penyakit demam lainnya. Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat,” ujar dokter sekaligus kreator konten Gia Pratama Putra dalam keterangan tertulis.

Menurut Gia, kondisi pasien perlu dipantau secara cermat, terutama ketika demam mulai mereda. Keluarga sebaiknya tidak hanya berpatokan pada angka suhu tubuh untuk menilai apakah pasien sudah membaik.

Sejumlah tanda bahaya yang perlu diperhatikan antara lain nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, gelisah, hingga penurunan kesadaran. Tanda-tanda tersebut sejalan dengan peringatan Kemenkes dan WHO mengenai dengue berat yang membutuhkan pertolongan medis segera.

“Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat. Karena DBD sudah begitu lama dikenal oleh masyarakat, jangan sampai justru kita menganggapnya sebagai bagian yang biasa dari kehidupan kita sehari-hari,” katanya.

Demam Turun Bukan Berarti Bahaya Berlalu

Dengue memiliki perjalanan penyakit yang perlu dipahami masyarakat. Pada awal infeksi, pasien umumnya mengalami demam dan gejala lain yang dapat menyerupai penyakit demam pada umumnya.

Menurut WHO, gejala dengue umumnya berlangsung selama dua hingga tujuh hari. Pada sebagian pasien, fase kritis dapat muncul sekitar hari ke-3 hingga ke-7, bertepatan dengan saat demam mulai turun. Pada fase tersebut, kondisi pasien dapat memburuk meski suhu tubuh sudah tidak setinggi sebelumnya.

Persoalannya, ketika demam mulai turun, sebagian orang justru menganggap pasien sudah memasuki tahap pemulihan. Padahal, periode tersebut perlu menjadi perhatian.

Perubahan kondisi pasien dapat berlangsung cepat sehingga pemantauan menjadi sangat penting. Keluarga sebaiknya memperhatikan kondisi pasien secara menyeluruh, bukan hanya melihat apakah demam sudah turun.

Apabila muncul tanda bahaya, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis.

Bagi Gia, kewaspadaan keluarga menjadi bagian penting karena penanganan di rumah sakit tidak seharusnya menjadi satu-satunya benteng menghadapi dengue.

“Di IGD kami bekerja menyelamatkan pasien ketika dengue sudah menjadi berat. Tetapi kemenangan terbesar sebenarnya terjadi jauh sebelum pasien sampai ke IGD,” ujarnya.

Kenali Tanda Bahaya DBD

WHO mencatat sejumlah tanda yang perlu diwaspadai ketika demam mulai mereda, antara lain:

  • nyeri perut hebat;
  • muntah terus-menerus;
  • perdarahan pada gusi atau hidung;
  • napas cepat;
  • tubuh sangat lemas;
  • gelisah;
  • muntah atau buang air besar disertai darah;
  • rasa haus berat; serta
  • kulit pucat dan terasa dingin.

Jika tanda-tanda tersebut muncul, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis.

DBD Tidak Hanya Perlu Diwaspadai Saat Musim Hujan

Kewaspadaan terhadap dengue juga tidak seharusnya hanya muncul ketika musim hujan tiba.

Kasus DBD pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968 melalui kejadian luar biasa (KLB) di Jakarta dan Surabaya. Kala itu, tercatat 58 kasus dengan 24 kematian atau tingkat kematian mencapai 41,3 persen.

Hampir enam dekade kemudian, Indonesia telah mencatat kemajuan dalam penanganan dengue. Tata laksana kasus dan berbagai upaya pengendalian berhasil menekan tingkat kematian hingga di bawah 1 persen.

Namun, dengue masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Penyakit ini dapat ditemukan di berbagai wilayah dan menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, tempat tinggal, maupun gaya hidup.

WHO juga menegaskan bahwa penularan dengue dapat terjadi selama nyamuk penular masih aktif. Faktor seperti suhu dan kelembapan dapat mendukung kelangsungan hidup nyamuk sehingga risiko dengue tidak semata-mata bergantung pada datangnya musim hujan.

Artinya, anggapan bahwa DBD hanya perlu diwaspadai ketika hujan turun perlu ditinggalkan. Selama nyamuk penular dan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakannya masih ada, risiko penularan tetap perlu diperhatikan.

Beban Dengue Juga Dirasakan Keluarga

Dampak dengue tidak berhenti pada pasien. Ketika satu anggota keluarga jatuh sakit, anggota keluarga lainnya ikut terdampak.

Studi Burden of Disease yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada memperkirakan lebih dari 2 juta rawat inap akibat dengue terjadi di Indonesia pada 2024. Beban ekonomi akibat penyakit tersebut diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun.

Di tingkat keluarga, satu kasus dengue dapat berarti biaya perawatan, waktu yang tersita untuk mendampingi pasien, hingga hilangnya waktu produktif.

Country Head Malaysia & Indonesia Takeda, Simon Gallagher, mengatakan dampak tersebut membuat keluarga memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dengue.

“DBD tidak hanya berdampak pada pasien. Ketika satu orang sakit, seluruh keluarga ikut merasakan dampaknya, mulai dari kekhawatiran, waktu yang digunakan untuk merawat, hingga beban finansial,” ujar Simon.

Menurut dia, target nol kematian akibat dengue pada 2030 membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk keluarga. Pencegahan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan keluarga sebelum dengue terjadi.

3M Plus Tetap Penting untuk Mencegah DBD

Masyarakat dapat menerapkan 3M Plus secara konsisten, yakni menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Kementerian Kesehatan juga menganjurkan sejumlah langkah tambahan, seperti menggunakan perlindungan dari gigitan nyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi, menggunakan obat antinyamuk sesuai kebutuhan, serta mendukung kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan sekitar.

Upaya tersebut dapat dilengkapi dengan mengurangi paparan gigitan nyamuk dan memperhatikan kondisi lingkungan di rumah maupun tempat beraktivitas.

Keluarga juga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pilihan pencegahan dengue lainnya, termasuk vaksinasi.

Target Nol Kematian Dengue pada 2030

Langkah pencegahan menjadi semakin penting mengingat Indonesia telah menetapkan target nol kematian akibat dengue pada 2030.

Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Kesehatan memimpin penyusunan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026-2029 dengan melibatkan kementerian dan lembaga di tingkat pusat dan daerah, organisasi profesi, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, akademisi, masyarakat sipil, serta lembaga filantropi.

Upaya pengendalian tidak hanya diarahkan pada penanganan pasien, tetapi juga penguatan surveilans, deteksi dini, pengendalian vektor, pengelolaan lingkungan, serta pemanfaatan berbagai inovasi seperti teknologi Wolbachia dan vaksinasi dengue.

Ketika kasus ditemukan lebih cepat, pasien dengan tanda bahaya diharapkan dapat segera memperoleh pelayanan medis dan tata laksana yang tepat.

Pada akhirnya, turunnya demam bukan satu-satunya ukuran bahwa pasien dengue telah pulih. Justru pada periode ketika suhu mulai mereda, keluarga perlu lebih cermat mengamati kondisi pasien dan segera mencari pertolongan apabila muncul tanda bahaya.