Di bawah hukum internasional, seharusnya anak-anak seperti Basim terlindungi dari dampak perang. Namun, di Gaza, mereka justru menjadi yang paling menderita di tengah kampanye militer Israel. Sekolah-sekolah ditargetkan, fasilitas air dihancurkan, dan pasokan makanan diblokir, sehingga hak-hak dasar anak-anak—seperti pendidikan, bermain, dan nutrisi yang layak—dijadikan senjata melawan generasi yang akan datang, tegas Zaimovic.

‘Kuburan untuk Anak-anak’

Genosida yang terjadi di Gaza juga memberikan bekas luka psikologis yang mendalam bagi anak-anak. Contohnya, Lana, seorang anak pengungsi berusia 10 tahun, mengalami depigmentasi pada kulit dan rambutnya akibat trauma setelah pengeboman yang terjadi di dekat tempat penampungannya. Ia kini lebih banyak berbicara dengan bonekanya, karena anak-anak lainnya sering mengolok-olok penampilannya.

Ibunya, Mai Jalal al-Sharif, menceritakan, “Dia hanya berbicara dengan bonekanya, bertanya, ‘Apakah kamu mau bermain denganku, atau akan seperti anak-anak lain?’ Kesehatan mentalnya sangat terganggu.”

Ahmad Alhendawi, direktur regional LSM Save the Children, menggambarkan, “Gaza saat ini adalah kuburan bagi anak-anak dan mimpi-mimpi mereka.” Ia menambahkan, “Setiap anak di Gaza terjebak dalam mimpi buruk yang tak terhindarkan, tumbuh dengan perasaan bahwa dunia telah meninggalkan mereka.”

Sejak 2 Maret, Israel menutup perlintasan Gaza, hanya mengizinkan masuknya 86 truk bantuan per hari, yang hanya mencakup 14 persen dari kebutuhan minimal 600 truk per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk, menurut data dari Kantor Media Pemerintah Gaza. Kurangnya bantuan ini telah menyebabkan krisis kelaparan yang parah di Gaza. Badan PBB dan lebih dari 150 organisasi kemanusiaan menyerukan gencatan senjata permanen untuk memperbolehkan pengiriman bantuan dan pemulihan bagi generasi yang terhimpit oleh penderitaan ini.