JAKARTA – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa kasus Influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai super flu bukan merupakan ancaman pandemi mematikan seperti Covid-19. Menurutnya, virus tersebut termasuk jenis influenza biasa dengan tingkat kematian yang sangat rendah.
“Ini jadi bukan satu virus baru seperti Covid. Dia penularannya cepat, tetapi kematiannya sangat rendah. Ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin di negara-negara maju. Di Indonesia sendiri kita juga sudah identifikasi, order-nya masih puluhan dan tidak parah. Artinya, dengan pengobatan biasa bisa sembuh sendiri,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (7/1).
Menkes mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada. Ia menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh sebagai benteng utama menghadapi virus influenza.
“Kalau imunitas kita bagus, makannya cukup, tidurnya cukup, olahraga cukup, insyaallah kalau ada virus masuk dan virusnya lemah seperti super flu ini, kita bisa sembuh,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya langkah pencegahan sederhana di tengah lingkungan yang rawan penularan.
“Kalau di lingkungan kita banyak yang batuk-batuk, untuk langkah pencegahan kita pakai masker dan rajin cuci tangan,” imbaunya.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen dari 800 sampel positif influenza yang diperoleh dari daerah menunjukkan temuan Influenza A H1N1 pdm09, Influenza A H3N2 subclade K sebanyak 62 kasus, serta Influenza B.
“Kami mendapatkan sampel-sampel positif influenza dari daerah. Dari hasil laboratorium sekitar 40 persen yang disampling, ditemukan Influenza A H1N1 pdm09, yang merupakan virus pandemi tahun 2009, kemudian H3N2 subclade K, serta Influenza B,” ujar Aji.
Aji menambahkan bahwa seluruh pasien yang terdeteksi mengalami super flu telah dinyatakan sembuh.
“Data 62 kasus itu kami dapatkan pada minggu ke-36 tahun 2025 atau awal September. Tidak ada yang sakit berat dan tidak ada yang meninggal. Saat ini kondisinya sudah normal,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa gejala super flu umumnya mirip dengan influenza biasa, seperti demam dengan suhu 38 hingga 39 derajat Celsius, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, serta sesak napas ringan.
“Mayoritas keluhannya demam,” tambah Aji.
Kementerian Kesehatan juga terus memperkuat sistem pemantauan melalui Sentinel ILI/SARI di 88 puskesmas, laboratorium daerah, rumah sakit, serta Balai Karantina dengan penggunaan thermal scanner di pintu masuk negara.
“Dengan pemantauan ini, baik yang masuk dari luar negeri maupun yang keluar, dapat terpantau dengan baik. Dari situ kita menentukan kebijakan dan upaya yang sesuai. Karena situasi di Indonesia tidak bisa disamakan dengan negara lain, kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi terkini,” pungkas Aji.

