Jakarta — Masih banyak orang yang mengira tepung panir dan tepung roti merupakan bahan yang sama dan bisa digunakan secara bergantian. Padahal, kesalahan dalam memilih jenis tepung ini kerap membuat hasil gorengan menjadi terlalu berminyak, kurang renyah, atau lapisan tepung tidak menempel dengan baik.

Tepung panir dan tepung roti memang memiliki fungsi yang hampir serupa, yakni sebagai pelapis makanan sebelum digoreng untuk menghasilkan tekstur renyah. Keduanya sering digunakan dalam berbagai hidangan populer seperti risoles, kroket, ayam katsu, nugget, hingga aneka seafood goreng.

Karena sama-sama berasal dari roti dan digunakan untuk tujuan yang mirip, tak sedikit orang menganggap tepung panir dan tepung roti adalah bahan yang identik. Namun, jika diperhatikan lebih detail, terdapat perbedaan mendasar dari sisi bahan baku, tekstur, proses pembuatan, hingga hasil akhir gorengan.

Pemilihan jenis tepung yang tepat sangat memengaruhi kerenyahan, warna, serta daya lekat lapisan tepung pada makanan. Oleh karena itu, penting untuk memahami karakter masing-masing tepung sebelum menggunakannya.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut perbedaan tepung panir dan tepung roti agar tidak keliru saat membeli maupun mengolahnya dalam berbagai menu masakan.

Perbedaan Tepung Panir dan Tepung Roti

1. Tekstur dan bentuk butiran
Perbedaan paling mudah dikenali terletak pada teksturnya. Tepung panir memiliki butiran yang lebih halus dan merata, menyerupai pasir kasar dengan ukuran partikel kecil.
Sebaliknya, tepung roti berbentuk serpihan lebih besar dan tidak beraturan. Tekstur kasar inilah yang membuat lapisan gorengan dari tepung roti terasa lebih berongga dan ekstra renyah dibandingkan tepung panir.

2. Bahan baku yang digunakan
Meski sama-sama berasal dari roti, bagian yang digunakan berbeda. Tepung roti dibuat dari bagian tengah roti tawar tanpa kulit yang dikeringkan dan digiling kasar, sehingga berwarna putih.
Sementara itu, tepung panir umumnya berasal dari pinggiran atau kulit roti yang dikeringkan dan dihaluskan, menghasilkan warna cokelat kekuningan.

3. Proses pembuatan
Tepung panir melalui proses penggilingan yang lebih halus sehingga teksturnya rapat dan padat.
Adapun tepung roti tidak digiling terlalu halus agar tetap mempertahankan bentuk remahan roti. Proses ini menghasilkan lapisan gorengan yang lebih ringan dan renyah saat digoreng.

4. Warna dan tampilan gorengan
Dari segi tampilan, tepung panir menghasilkan warna keemasan yang cenderung lebih gelap karena bahan bakunya berasal dari kulit roti.
Sementara itu, tepung roti memberikan warna gorengan yang lebih terang dan bersih, terutama jika menggunakan roti putih tanpa kulit.

5. Daya serap minyak
Tepung roti memiliki daya serap minyak yang lebih tinggi akibat teksturnya yang kasar dan berongga. Hal ini membuat gorengan terasa sangat renyah, namun berpotensi lebih berminyak.
Sebaliknya, tepung panir menyerap minyak lebih sedikit sehingga hasil gorengan terasa lebih ringan.

6. Jenis dan tujuan penggunaan
Tepung panir lebih cocok digunakan untuk makanan bertekstur lunak seperti kroket, risoles, pastel tutup, rolade, dan nugget karena partikel halusnya mudah menempel.
Tepung roti lebih sering digunakan pada makanan bertekstur padat seperti ayam goreng, katsu, seafood, tempura, dan olahan daging karena mampu membentuk lapisan tebal dan krispi.

7. Perbandingan harga di pasaran
Dari segi harga, tepung panir umumnya lebih terjangkau dibandingkan tepung roti. Hal ini membuatnya banyak dipilih oleh pelaku usaha kuliner berskala besar yang membutuhkan bahan pelapis dalam jumlah banyak. Meski demikian, pemilihan tetap perlu disesuaikan dengan jenis masakan dan hasil yang diinginkan.

Dengan memahami perbedaan tepung panir dan tepung roti, kesalahan saat memasak dapat dihindari dan kualitas hidangan pun meningkat. Pastikan memilih jenis tepung sesuai kebutuhan resep agar hasil gorengan lebih maksimal.