Jakarta — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan sumpah setia kepada Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran sekaligus pemimpin ketiga Revolusi Islam pada Senin (9/3).
Dalam pesan yang disampaikannya, Pezeshkian menilai momen tersebut sebagai peristiwa penting bagi bangsa Iran. Ia juga menyinggung janji-janji ilahi yang melatarbelakangi pemilihan Mojtaba Khamenei oleh Majelis Pakar.
“Pemungutan suara yang tegas dan bijaksana dari Majelis Pakar menandai era baru martabat dan kekuasaan Iran,” kata Mojtaba dalam laporan media pemerintah, Tasnim News Agency.
Pezeshkian menyampaikan keyakinannya bahwa di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei, Iran akan menuju masa depan yang cerah, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan nasional secara menyeluruh.
Ia juga menyoroti ketahanan bangsa Iran sepanjang sejarah dalam menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, Iran mampu melewati berbagai rintangan melalui kearifan kolektif, keimanan, dan upaya yang terus dilakukan oleh masyarakatnya.
Pezeshkian menegaskan bahwa Iran akan mampu melewati masa sulit dengan mengandalkan berbagai aset yang dimiliki negara tersebut, termasuk keberanian rakyat dan kepemimpinan yang berdedikasi. Ia juga meyakini bahwa di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei, Iran akan mencapai berbagai kemajuan dan pencapaian baru.
Mojtaba Khamenei terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran setelah Ayatollah Ali Khamenei, yang juga merupakan ayahnya, tewas dalam operasi Amerika Serikat dan Israel di Iran pada 28 Februari. Dalam peristiwa tersebut, istri Mojtaba yang juga ibu dari Mojtaba Khamenei turut tewas.
Dalam misinya meluncurkan operasi di Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan keinginannya untuk mengganti rezim di negara tersebut.
Namun, kepemimpinan ulama di Iran dinilai telah mengakar kuat sehingga sulit digoyahkan. Terpilihnya Mojtaba Khamenei juga disebut menandai kegagalan Amerika Serikat dan Israel dalam upaya melengserkan kepemimpinan Iran.

