Jakarta — Taylor Swift disebut menjadi faktor penting di balik potensi “rezeki nomplok” bagi para musisi di bawah naungan Universal Music Group (UMG), setelah perusahaan tersebut menjual sebagian sahamnya di Spotify.
UMG mengumumkan pada 29 April 2026 bahwa mereka akan melepas separuh dari tiga persen saham yang dimiliki di Spotify. Berdasarkan valuasi per tanggal tersebut, nilai penjualan diperkirakan mencapai hingga US$1,4 miliar.
Penjualan saham ini memicu berlakunya klausul kontrak dengan Taylor Swift, yang memungkinkan para musisi di bawah UMG ikut mendapatkan bagian dari hasil transaksi tersebut.
Dilaporkan The Hollywood Reporter pada Rabu (29/4), kesepakatan ini berawal dari negosiasi kontrak Taylor Swift sebelum bergabung dengan UMG pada November 2018.
Saat itu, UMG sebenarnya telah berkomitmen untuk membagikan hasil penjualan saham Spotify kepada para artis. Namun, Taylor Swift mengajukan syarat agar pembagian tersebut bersifat non-recoupable, yakni tidak dikaitkan dengan utang atau biaya yang harus dibayar artis kepada label.
Dalam klausul kontraknya, Taylor Swift bahkan menyatakan bahwa ketentuan non-recoupable tersebut “lebih berarti bagi saya daripada poin kesepakatan lainnya.”
Langkah ini dinilai sebagai strategi cerdas yang memberikan dampak luas, karena memastikan pembagian yang lebih adil bagi ribuan artis lain di bawah UMG. Kebijakan tersebut juga dinilai hanya dapat terwujud berkat pengaruh besar yang dimiliki Swift di industri musik.
Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian mengenai besaran dana yang akan diterima masing-masing artis, mekanisme pembagian, maupun waktu pencairannya.
UMG menyatakan bahwa porsi untuk artis akan mengikuti pendekatan kompensasi yang berlaku, yakni berdasarkan royalti serta kontribusi mereka dalam pendapatan streaming.
Sikap tegas Taylor Swift terhadap industri streaming bukan hal baru. Pada 2015, ia sempat menulis surat terbuka kepada Apple melalui Tumblr untuk mendesak layanan Apple Music agar tetap membayar artis selama masa uji coba gratis.
Tak lama kemudian, eksekutif Apple, Eddy Cue, mengonfirmasi kepada Billboard bahwa surat tersebut mendorong perubahan kebijakan perusahaan.
Selain itu, Taylor Swift juga pernah menarik seluruh katalog musiknya dari Spotify sebagai bentuk protes terhadap rendahnya pembayaran dari layanan streaming dibandingkan penjualan album, sebelum akhirnya kembali tersedia pada 2017.

