JAKARTA – Starbucks Korea akan menutup seluruh gerainya lebih awal pada 22 Juni 2026 sebagai bagian dari program pelatihan wajib bagi seluruh karyawan. Langkah ini diambil setelah promosi yang dijalankan perusahaan memicu kontroversi dan berujung pada aksi boikot dari sebagian pelanggan.
Seluruh gerai Starbucks di Korea Selatan dijadwalkan menghentikan operasional pada pukul 15.00 waktu setempat pada Senin (22/6). Program pelatihan tersebut akan berfokus pada pemahaman sejarah dan peningkatan kepekaan sosial bagi karyawan.
Perusahaan induk Starbucks Korea, Shinsegae Group, menyatakan bahwa pelatihan serupa juga akan diikuti secara terpisah oleh Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, bersama jajaran eksekutif dan manajemen perusahaan.
Kebijakan ini merupakan respons atas kontroversi kampanye promosi bertajuk “Tank Day” yang digelar bulan lalu. Program tersebut menawarkan potongan harga untuk seri gelas Tank, namun menuai kritik karena dianggap merujuk pada Tragedi Gwangju 1980.
Peristiwa Gwangju merupakan salah satu tragedi paling sensitif dalam sejarah modern Korea Selatan. Saat itu, pemerintahan militer mengerahkan pasukan dan kendaraan tempur untuk membubarkan demonstrasi warga di kota Gwangju yang mengakibatkan ratusan korban jiwa.
Kontroversi tersebut memicu reaksi luas dari masyarakat dan kalangan politik, termasuk Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. Di tengah gelombang kritik yang muncul, Chung Yong-jin menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.
Selain itu, perusahaan juga mengambil langkah internal dengan memberhentikan CEO Starbucks Korea setelah manajemen melaporkan adanya penurunan pendapatan yang signifikan akibat dampak kontroversi tersebut.
Shinsegae menyebut penutupan seluruh gerai lebih awal ini merupakan yang pertama kali dilakukan sejak Starbucks hadir di Korea Selatan pada 1999.
“Hal ini menunjukkan betapa seriusnya kami menanggapi insiden pemasaran ini, dan mencerminkan komitmen kami untuk memastikan hal itu tidak akan pernah terjadi lagi,” kata Shinsegae dalam pernyataan resminya.
Menurut perusahaan, pelatihan tersebut bertujuan mencegah terulangnya kesalahan serupa dengan memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara komunikasi perusahaan dan sensitivitas publik.
Materi pelatihan akan mencakup sejarah Korea modern, serta berbagai isu sosial yang dinilai sensitif seperti gender, ketenagakerjaan, hak asasi manusia, dan ujaran kebencian.
Selain pelatihan, Starbucks Korea juga melakukan evaluasi terhadap proses pengambilan keputusan internal yang dinilai memiliki kelemahan sehingga kampanye “Tank Day” dapat dipublikasikan.
Sebagai langkah perbaikan, perusahaan akan menerapkan “daftar periksa sensitivitas sosial” yang disusun bersama para ahli eksternal. Starbucks Korea juga berencana memperketat mekanisme persetujuan promosi melalui koordinasi lintas departemen, termasuk tim hukum dan pengendalian mutu.
Korea Selatan merupakan salah satu pasar terbesar Starbucks di dunia di luar Amerika Serikat dan China. Saat ini, jaringan ritel Shinsegae melalui E-Mart menguasai 67,5 persen saham bisnis Starbucks Korea, sementara sisanya dimiliki oleh dana kekayaan negara Singapura.

