JAKARTA – Pemerintah Aljazair memutus hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab (UEA) setelah hubungan kedua negara menegang dalam beberapa tahun terakhir.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Aljazair menyatakan keputusan tersebut diambil karena pihaknya sudah tidak bisa lagi menoleransi tindakan UEA. Namun, Aljazair tidak merinci tindakan yang dimaksud.
Menurut Kemlu Aljazair, berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan hubungan bilateral. Namun, serangkaian tindakan UEA yang dinilai “provokatif atau bermusuhan” disebut tidak bisa lagi diterima.
“Aljazair telah memutuskan untuk menyudahi hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab, setelah semua upaya untuk mempertahankan hubungan bilateral telah habis dilakukan,” demikian pernyataan televisi pemerintah negara tersebut, seperti dikutip Al Jazeera.
Hubungan Aljazair dan UEA Memanas
Hubungan antara UEA dan Aljazair telah tegang selama beberapa tahun terakhir. Media-media Aljazair berulang kali menuduh UEA berupaya memecah belah negara-negara di kawasan.
Kedua negara juga memiliki sikap berbeda terhadap sejumlah isu regional.
Aljazair menentang normalisasi hubungan dengan Israel. Sementara itu, UEA dan Maroko, yang merupakan saingan regional Aljazair, menjalin hubungan diplomatik dengan Israel melalui kerja sama Abraham Accords yang ditengahi Amerika Serikat pada 2020.
Perbedaan sikap juga terlihat dalam sengketa Sahara Barat yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
UEA mendukung klaim kedaulatan Maroko atas wilayah tersebut dan memiliki kantor konsulat di sana. Aljazair, sementara itu, mendukung Front Polisario yang memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat.
Kepentingan kedua negara juga semakin sering bersinggungan di kawasan Sahel.
Di kawasan tersebut, UEA telah memperluas hubungan dengan sejumlah pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Pada saat yang sama, hubungan Aljazair dengan beberapa negara tetangganya di selatan justru merenggang setelah serangkaian kudeta militer.
Aljazair Beri Waktu 48 Jam kepada UEA
Seiring dengan pengumuman pemutusan hubungan diplomatik, Aljazair juga mengaku telah memanggil Duta Besar UEA untuk negara tersebut, Yousef Saif Khamis Subaa Al Ali.
Pemanggilan itu dilakukan untuk menginformasikan keputusan Aljazair.
Aljazair memberi waktu 48 jam kepada UEA untuk mematuhi keputusan tersebut. Pemerintah Aljazair juga mengumumkan bahwa mulai Jumat (11/9), mereka akan menutup ruang udara untuk semua penerbangan UEA.
UEA telah merespons keputusan tersebut.
Kemlu UEA menyatakan pihaknya berharap keputusan Aljazair hanya bersifat sementara. Abu Dhabi juga menyatakan tetap berkomitmen menjaga hubungan antarwarga kedua negara serta kepentingan bersama.

