Jakarta — Delegasi Iran membantah laporan bahwa mereka diusir pemerintah Amerika Serikat (AS) dari New York setelah pembicaraan antara Washington dan Teheran menemui jalan buntu.
Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan delegasi yang dipimpin Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan New York sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pernyataan tersebut disampaikan setelah muncul laporan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memerintahkan delegasi Iran segera meninggalkan Amerika Serikat.
Dalam unggahan di X, Misi Iran di PBB menepis laporan tersebut dan menyebut pemberitaan mengenai pengusiran delegasi sebagai informasi yang tidak berdasar.
“Setelah tidak mencapai apa pun, Departemen Luar Negeri (AS) telah menggunakan cara menyebarkan berita yang tidak berdasar dan tak penting,” demikian pernyataan yang dikutip dari Al Jazeera.
Muncul Laporan Rubio Perintahkan Delegasi Iran Pergi
Sebelumnya, Axios melaporkan Rubio memerintahkan Misi AS untuk PBB pada Senin (28/9) malam agar menyampaikan kepada Misi Iran bahwa delegasi Araghchi harus segera meninggalkan New York.
Laporan tersebut mengutip seorang pejabat AS dan sumber lain yang mengetahui persoalan tersebut. Menurut pejabat AS yang dikutip, delegasi Iran dinilai sudah terlalu lama berada di Amerika Serikat dan Sidang Umum PBB juga telah berakhir.
Laporan mengenai perintah tersebut kemudian muncul di tengah kebuntuan pembicaraan AS dan Iran mengenai upaya mengakhiri konflik serta mencari kesepakatan terkait Selat Hormuz.
Iran Sebut Kepulangan Sudah Dijadwalkan
Versi berbeda disampaikan oleh pihak Iran. Misi Iran di PBB menyatakan delegasi meninggalkan New York sesuai jadwal yang telah direncanakan sebelumnya.
Sumber lain yang dikutip dalam laporan mengenai persoalan tersebut juga mengatakan Araghchi memang telah dijadwalkan meninggalkan New York pada Senin malam. Sebelumnya, Araghchi mengatakan dirinya akan segera kembali ke Teheran.
Al Jazeera melaporkan Araghchi meninggalkan New York pada Selasa (29/9) dan mengatakan dirinya akan menunggu respons Amerika Serikat melalui mediator.
Dengan demikian, terdapat perbedaan keterangan mengenai apakah kepulangan delegasi Iran merupakan keputusan yang telah dijadwalkan sebelumnya atau berkaitan dengan instruksi pemerintah AS.
Pembicaraan AS-Iran Kembali Buntu
Persoalan tersebut muncul setelah upaya diplomatik AS dan Iran kembali menghadapi kebuntuan. Pembicaraan berlangsung di tengah upaya mediator, termasuk Qatar, untuk mempertemukan posisi kedua negara.
Iran sebelumnya mengajukan proposal tujuh hari yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali pembicaraan. Proposal tersebut menjadi bagian dari upaya mencari jalan keluar diplomatik dari konflik yang berlangsung di kawasan.
Pembicaraan di New York juga berkaitan dengan tuntutan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz serta isu lain yang menjadi bagian dari hubungan Washington dan Teheran.
Pada akhirnya, Araghchi meninggalkan New York dan kembali ke kawasan tersebut, sementara upaya mediator untuk menjembatani perbedaan kedua negara masih berlangsung.

