Jakarta — Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) menyatakan siap memberikan pendampingan hukum dan psikologis kepada pemain yang menjadi korban tindakan rasialisme dalam kompetisi sepak bola Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden APPI Hanif Sjahbandi setelah muncul kembali kasus dugaan komentar rasialis yang menimpa dua pemain muda, yakni Mikael Alfredo Tata dari Persebaya Surabaya dan Kakang Rudianto dari Persib Bandung.
Kasus tersebut mencuat setelah pertandingan Persebaya melawan Persib yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (2/3).
“Kami langsung berkomunikasi dengan pemainnya sendiri ingin seperti apa. Kami posisinya memberi layanan pendampingan [hukum dan psikolog]. Kalau memang ingin lanjut diproses [hukum] bisa kami dampingi,” kata Hanif di Jakarta, Kamis (5/3).
Hanif menegaskan bahwa pendampingan terhadap pemain merupakan bagian dari tanggung jawab APPI sebagai organisasi yang menaungi para pesepakbola profesional. Ia berharap para pemain tidak hanya merasa aman saat bertanding di lapangan, tetapi juga dalam kehidupan di luar pertandingan.
“Kami memberi benefit. Tinggal pemainnya mau atau tidak. Kalau pemain butuh pendampingan psikolog juga akan kami wadahi,” ujarnya.
Sebelumnya, manajemen Persebaya menyatakan telah membuat laporan resmi kepada APPI terkait komentar rasialis yang dialami Mikael Alfredo Tata. Laporan tersebut juga telah disampaikan kepada I.League selaku operator kompetisi.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial, Persebaya menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang kebersamaan tanpa diskriminasi.
“Sepak bola bukan hanya adu strategi dan gengsi di atas lapangan. Ia adalah tempat untuk saling mengenal dan bertemu antar sesama, pemain, official, pelatih, juga sesama pencinta sepak bola,” tulis Persebaya.
Manajemen klub juga menyebut bahwa Mikael Alfredo Tata mengalami serangan komentar rasialis yang berulang setelah pertandingan tersebut.

