Jakarta — Bos Netflix mengungkapkan bahwa kegagalan mengakuisisi Warner Bros. Discovery memang mengecewakan. Namun di balik itu, perusahaan justru mendapatkan pelajaran penting sekaligus kompensasi besar.

Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, menyebut pengalaman tersebut menguji disiplin investasi perusahaan, terutama dalam mengambil keputusan besar.

“Manfaat terpenting dari seluruh proses ini adalah kami menguji disiplin investasi kami. Ketika biaya kesepakatan meningkat melebihi nilai bagi bisnis dan pemegang saham, kami siap mengesampingkan emosi dan mundur,” ujarnya, dikutip dari Variety.

Menurut Sarandos, keputusan tersebut menjadi pembelajaran penting bagi tim dalam menghadapi proses merger dan akuisisi (M&A) di masa depan.

Belajar dari Proses Akuisisi

Ia mengakui ada kekecewaan karena tidak jadi bekerja sama dengan tim Warner Bros Discovery. Namun, pengalaman tersebut dinilai memperkuat kemampuan internal perusahaan.

“Kami bertemu banyak orang hebat di WBD. Kekecewaannya adalah tidak bisa bekerja sama dengan mereka,” katanya.

Netflix sendiri sempat mengajukan tawaran besar untuk mengakuisisi aset WBD. Namun pada 26 Februari 2026, perusahaan memutuskan mundur setelah nilai kesepakatan dinilai tidak lagi menguntungkan.

Paramount Menang, Netflix Dapat Kompensasi

Dalam proses tersebut, Paramount bersama Skydance milik David Ellison mengajukan tawaran lebih tinggi dan akhirnya memenangkan akuisisi.

Meski kalah, Netflix tetap memperoleh kompensasi sebesar US$2,8 miliar atau sekitar Rp47 triliun.

Chief Financial Officer Netflix, Spence Neumann, menyebut dana tersebut menjadi keuntungan tambahan bagi perusahaan.

“Kami sekarang melangkah maju dengan US$2,8 miliar yang sebelumnya tidak kami miliki,” ujarnya dalam konferensi investor.

Tegaskan Fokus sebagai Pembangun

Sarandos menegaskan bahwa Netflix tetap fokus sebagai “pembangun” daripada sekadar “pembeli” dalam industri hiburan global.

Ia juga menilai tim internal Netflix telah menunjukkan kemampuan kuat dalam menangani proses akuisisi berskala besar, termasuk dalam aspek eksekusi dan integrasi awal.

“Tim kami lebih dari mampu untuk tugas sebesar ini. Kami belajar banyak dan sangat bangga dengan pekerjaan yang telah dilakukan,” ujarnya.