JAKARTA – Anak yang tiba-tiba susah makan sering dianggap sedang pilih-pilih makanan atau mengalami fase picky eater. Padahal, nafsu makan menurun dapat menjadi salah satu tanda yang muncul pada infeksi cacing, meski gejala tersebut tidak secara otomatis berarti anak mengalami cacingan.
Infeksi cacing usus masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama pada anak. Salah satu kelompok yang umum adalah soil-transmitted helminths (STH), yang mencakup cacing gelang, cacing cambuk, dan cacing tambang.
Infeksi STH dapat terjadi ketika telur cacing dari lingkungan yang terkontaminasi masuk ke tubuh. Penularannya dapat berkaitan dengan sanitasi yang buruk, makanan atau air yang terkontaminasi, serta kebiasaan anak bermain di tanah lalu memasukkan tangan ke mulut. Pada cacing tambang, larva juga dapat menembus kulit.
Tanda Cacingan pada Anak
Orang tua perlu mengenali sejumlah gejala yang dapat muncul pada infeksi cacing. Namun, gejala-gejala tersebut juga bisa disebabkan kondisi lain sehingga diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan.
1. Sakit Perut Berulang
Sakit perut termasuk salah satu keluhan yang dapat muncul pada infeksi cacing usus.
WHO menyebut infeksi soil-transmitted helminths dapat menyebabkan gejala saluran pencernaan seperti sakit perut dan diare, terutama pada infeksi dengan jumlah cacing yang lebih banyak.
Karena sakit perut memiliki banyak kemungkinan penyebab, orang tua perlu memperhatikan apabila keluhan terjadi berulang atau disertai gejala lain.
2. Nafsu Makan Menurun
Anak yang mengalami infeksi cacing dapat mengalami penurunan nafsu makan.
WHO menjelaskan bahwa beberapa infeksi cacing dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan dan berkurangnya asupan nutrisi. Infeksi juga dapat mengganggu penyerapan zat gizi.
Karena itu, perubahan pola makan yang berlangsung terus-menerus perlu diperhatikan, terutama jika disertai keluhan lain.
3. Gatal di Sekitar Anus, Terutama Malam Hari
Gatal di sekitar anus, khususnya pada malam hari, merupakan keluhan yang khas pada infeksi cacing kremi (Enterobius vermicularis).
Gejala ini dapat membuat anak merasa tidak nyaman, gelisah, atau mengalami gangguan tidur.
Namun, gatal di sekitar anus juga dapat disebabkan masalah kulit atau kondisi lainnya sehingga tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk memastikan cacingan.
4. Berat Badan Sulit Naik
Infeksi cacing yang cukup berat dapat mengganggu status gizi anak.
WHO menyebut infeksi soil-transmitted helminths dapat menyebabkan malnutrisi serta mengganggu asupan, pencernaan, dan penyerapan zat gizi. Pada infeksi berat, kondisi tersebut juga dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan fisik anak.
Karena itu, berat badan yang sulit bertambah perlu dipantau bersama pertumbuhan anak secara keseluruhan.
5. Mudah Lelah dan Tampak Lesu
Anak yang mengalami infeksi cacing tertentu dapat mengalami kelemahan dan mudah lelah.
Salah satu penyebabnya adalah cacing tambang yang dapat menyebabkan kehilangan darah kronis di saluran pencernaan dan berujung pada anemia.
Jika anak terlihat terus-menerus lemas, kurang bertenaga, atau mengalami penurunan kemampuan beraktivitas, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebabnya.
6. Diare atau Gangguan Buang Air Besar
Diare juga dapat muncul pada infeksi cacing usus.
WHO memasukkan diare dan sakit perut sebagai salah satu manifestasi saluran pencernaan pada infeksi soil-transmitted helminths.
Meski demikian, diare jauh lebih sering disebabkan berbagai kondisi lain. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa diare merupakan tanda cacingan.
7. Perut Tampak Membuncit
Pada infeksi yang berat, gangguan status gizi dapat membuat perut anak tampak membuncit.
Dalam kasus infeksi dengan jumlah cacing yang sangat banyak, WHO juga mencatat adanya kemungkinan terjadi penyumbatan usus yang membutuhkan penanganan medis.
Kondisi seperti ini bukan gejala yang boleh dianggap sepele. Jika anak mengalami nyeri perut berat, muntah, perut membesar, atau sulit buang air besar, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis.
Bagaimana Anak Bisa Terkena Cacing?
Penularan cacing usus dapat berkaitan erat dengan aktivitas sehari-hari dan kondisi sanitasi.
Beberapa jalur penularannya antara lain:
- Makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
- Mengonsumsi buah atau sayuran yang terkontaminasi.
- Mengonsumsi air atau makanan yang tercemar.
- Bermain di tanah yang terkontaminasi lalu memasukkan tangan ke mulut.
- Berjalan tanpa alas kaki di tanah yang terkontaminasi larva cacing tambang.
Karena itu, kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan dan air, menggunakan alas kaki, serta memperbaiki sanitasi menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Kapan Anak Perlu Diperiksa?
Tidak semua anak yang mengalami sakit perut, sulit makan, diare, atau berat badan sulit naik berarti mengalami cacingan.
Orang tua perlu lebih memperhatikan apabila beberapa keluhan muncul bersamaan, berlangsung berulang, atau disertai gangguan pertumbuhan dan kondisi anak yang semakin lemah.
Pemeriksaan di fasilitas kesehatan dapat membantu menentukan penyebab keluhan dan apakah diperlukan pemeriksaan atau pengobatan khusus.
Pemberian Obat Cacing
Pemberian obat cacing merupakan salah satu strategi pengendalian infeksi cacing di wilayah yang memiliki risiko tinggi.
WHO merekomendasikan pemberian obat pencegahan seperti albendazole atau mebendazole secara berkala bagi kelompok anak yang tinggal di wilayah dengan prevalensi infeksi soil-transmitted helminths yang memenuhi kriteria tertentu. Pemberian dapat dilakukan setiap tahun atau dua kali setahun, bergantung pada tingkat prevalensi di wilayah tersebut.
Namun, pemberian obat kepada anak sebaiknya mengikuti program kesehatan yang berlaku atau petunjuk tenaga kesehatan, terutama untuk anak usia sangat muda atau ketika anak sedang mengalami keluhan tertentu.
Pencegahan juga tidak cukup hanya dengan obat. WHO menekankan pentingnya perbaikan sanitasi, kebersihan, air bersih, dan edukasi kesehatan untuk mengurangi risiko infeksi.
Dengan mengenali tanda-tandanya sejak dini dan menjaga kebersihan sehari-hari, orang tua dapat membantu mengurangi risiko infeksi cacing sekaligus menjaga tumbuh kembang anak.

