Jakarta – Pemerintah Indonesia berencana menerapkan mandatori pencampuran bahan bakar minyak (BBM) bensin dengan etanol sebesar 20 persen (E20) yang ditargetkan mulai berlaku pada tahun 2028. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kebijakan tersebut merupakan hasil pembelajaran dari berbagai negara, termasuk Brasil yang dinilai berhasil dalam implementasi bioetanol.
“Berangkatlah saya ke Brasil dan beberapa negara lain. Saya belajar, ternyata di Brasil itu sudah mandatory E30 bahkan di beberapa negara bagian sudah E100,” ujar Bahlil, dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (04/05).
Bahlil menjelaskan, bioetanol dapat diproduksi dari berbagai bahan baku seperti jagung, tebu, hingga singkong yang tersedia di Indonesia. Hal ini dinilai berpotensi memberikan dampak ekonomi yang signifikan, khususnya bagi sektor pertanian dan daerah penghasil komoditas tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan bioetanol dalam program E20, pemerintah juga membuka opsi impor sebagai langkah sementara. Namun, kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk memperkuat produksi dalam negeri secara bertahap.
Bahlil memproyeksikan bahwa penerapan E20 pada 2028 akan membutuhkan sekitar 8 juta kiloliter bioetanol. Sementara itu, kebutuhan impor BBM saat ini masih berada di kisaran 20 juta kiloliter.
“Kalau kita bikin etanol E20 berarti mandatorinya di 2028 delapan juta. Kalau sekarang kita impor 20 juta, kita mandatory 20 persen kurang 8 juta lagi. Jadi importir kurang tinggal 12 juta. Bagaimana orang nggak sakit gigi? Main lagi di sosmed barang ini,” kata Bahlil.
Ia juga menyebut bahwa kebijakan ini telah melalui berbagai tahap pengujian dan dinyatakan layak untuk diterapkan. Sejumlah negara seperti India, Thailand, dan Amerika Serikat disebut telah lebih dulu menjalankan program campuran etanol dalam bahan bakar mereka.
Saat ini, kebijakan bioetanol yang berlaku di Indonesia adalah E5 atau bensin dengan campuran lima persen etanol. Produk yang telah dipasarkan adalah Pertamax Green milik Pertamina.

