Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang menjadi langkah awal menuju perjanjian damai antara kedua negara pada Rabu (17/6).
Dokumen tersebut ditandatangani secara terpisah oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Trump menandatangani MoU di Prancis, sementara Pezeshkian menandatanganinya di Iran.
Kesepakatan awal ini memuat 14 poin penting yang menjadi dasar pembahasan menuju perjanjian damai permanen. Salah satu poin utama adalah komitmen untuk menghentikan konflik di berbagai front, termasuk di Lebanon.
Kesepakatan Hentikan Konflik dan Buka Kembali Selat Hormuz
Sejak pecahnya konflik AS-Israel melawan Iran, wilayah Lebanon selatan turut menjadi sasaran serangan akibat keterlibatan kelompok Hizbullah. Hingga kini, serangan Israel ke Lebanon masih berlangsung meskipun kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata pada April lalu.
Dalam MoU tersebut, AS dan Iran juga menyepakati pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup Teheran setelah serangan yang terjadi pada 28 Februari.
Proses pembukaan jalur strategis itu akan diawali dengan pembersihan ranjau selama 30 hari sejak nota kesepahaman ditandatangani. Setelah itu, kapal-kapal komersial akan kembali memperoleh akses pelayaran yang aman.
Kesepakatan juga mencakup komitmen Washington untuk mengakhiri blokade angkatan laut terhadap Iran. Selain itu, pasukan AS disebut akan mundur dari wilayah sekitar Iran dalam waktu 30 hari setelah perjanjian final resmi ditandatangani.
Apakah Perang AS-Iran Sudah Berakhir?
Meski MoU telah ditandatangani, konflik belum sepenuhnya dinyatakan berakhir. AS dan Iran masih memiliki waktu sekitar 60 hari untuk merundingkan serta menyusun perjanjian damai final yang bersifat mengikat.
Salah satu isu utama yang akan dibahas dalam perundingan lanjutan adalah program nuklir Iran, yang selama ini menjadi sumber ketegangan antara Teheran dengan AS dan Israel.
Dalam nota kesepahaman tersebut, Iran menyatakan tidak akan pernah memperoleh senjata nuklir. Sejumlah pejabat senior AS juga menyebut Iran setuju untuk mengurangi kadar uranium yang telah diperkaya.
Nasib uranium yang selama ini menjadi perhatian komunitas internasional juga disebut telah masuk dalam pembahasan kedua negara. Material tersebut akan menjadi bagian dari pengaturan yang dituangkan dalam perjanjian akhir.
Trump Beri Peringatan Keras
Sebelum penandatanganan MoU, Presiden Donald Trump sempat menyampaikan peringatan keras kepada Iran terkait masa perundingan yang akan berlangsung.
Menurut Trump, Amerika Serikat dapat kembali melancarkan serangan apabila Iran tidak mematuhi kesepakatan selama proses negosiasi berlangsung.
“Ini adalah nota kesepahaman. Jika saya tidak menyukainya, kami akan kembali menembaki mereka, menjatuhkan bom di kepala mereka. Saya tidak suka jika mereka tidak berperilaku baik. Kami akan langsung kembali menjatuhkan bom tepat di tengah kepala mereka jika mereka macam-macam,” kata Trump dalam pertemuan puncak G7 di Évian-les-Bains.
Iran Sebut MoU sebagai Dokumen Bersejarah
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan komitmen negaranya terhadap isi nota kesepahaman tersebut melalui media sosial X pada Kamis.
Dalam pernyataannya, Pezeshkian menyebut MoU antara AS dan Iran sebagai dokumen bersejarah yang menunjukkan komitmen kedua pihak dalam menciptakan perdamaian.
Ia juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut menjadi pesan bahwa perdamaian dapat terwujud melalui prinsip saling menghormati.
Meski demikian, keberhasilan nota kesepahaman ini masih akan sangat bergantung pada hasil perundingan selama 60 hari ke depan. Hingga perjanjian final ditandatangani, berbagai ketidakpastian masih membayangi hubungan kedua negara yang telah lama bersitegang.

