Jakarta — Tim SAR gabungan masih melanjutkan operasi pencarian terhadap korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Nurul Salsa di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Hingga Kamis (16/7) sore, 24 orang masih dinyatakan hilang.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengungkapkan proses pendataan menemukan ketidaksesuaian antara manifes resmi pelabuhan dan jumlah penumpang yang berada di kapal.
Menurut Arif, manifes resmi hanya mencatat 45 orang. Namun, di lapangan ditemukan 21 penumpang tidak tercantum dalam manifes, ditambah 8 Anak Buah Kapal (ABK).
Hingga proses pendataan di Pelabuhan Benteng pada Kamis sore, Basarnas mencatat 50 orang telah berhasil dievakuasi. Dari jumlah tersebut, satu orang meninggal dunia, sementara 24 orang lainnya masih dalam pencarian.
“Tim SAR gabungan sampai sore hari ini masih melaksanakan pencarian ke-24 orang tersebut,” kata Arif dalam Metro Hari Ini, Metro TV, Kamis (16/7).
Mesin Mati di Tengah Cuaca Buruk
Arif menjelaskan insiden bermula ketika KM Nurul Salsa yang berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng Selayar mengalami mati mesin sekitar pukul 11.10 WITA.
Awak kapal sempat berupaya memperbaiki kerusakan secara mandiri di tengah laut. Namun, mesin tidak kembali berfungsi hingga sore hari.
Permintaan bantuan baru diterima Basarnas pada pukul 16.43 WITA setelah keluarga penumpang menghubungi petugas.
“Sempat diupayakan perbaikan, namun hingga sore hari mesin tidak kunjung bagus. Akhirnya pada pukul 16.43 WITA, kami baru menerima informasi dari keluarga korban untuk meminta bantuan evakuasi. Cuaca di lapangan ombaknya tinggi karena angin cukup kencang,” ujar Arif.
Basarnas Kerahkan Kapal, KRI, dan Pesawat Intai
Menindaklanjuti laporan tersebut, Basarnas mengerahkan personel Pos SAR Selayar menggunakan kapal nelayan KLM Harapan Kita menuju lokasi kejadian yang berjarak sekitar 42 nautical mile dari Pelabuhan Benteng.
Operasi pencarian juga diperkuat oleh Lantamal Makassar yang mengerahkan KRI untuk melakukan penyisiran sejak Kamis dini hari.
Selain armada laut, pencarian turut melibatkan unsur udara.
“Kami berkoordinasi dengan pihak Lanud Sultan Hasanuddin. TNI AU telah memberangkatkan satu pesawat Boeing Intai yang memiliki kamera zoom jarak jauh untuk melakukan pencarian dari udara,” kata Arif.
Basarnas juga mengirimkan Kapal Negara (KN) SAR Kamajaya dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar untuk memperkuat operasi pencarian dan evakuasi korban.

