Dalam organisasi kader, senioritas adalah sesuatu yang wajar. Ada orang yang lebih dahulu masuk, lebih lama berproses, lebih banyak mengalami dinamika organisasi, dan tentu memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki kader yang datang kemudian. Karena itu, keberadaan senior sebenarnya merupakan aset penting bagi GMKI.
Persoalannya muncul ketika pengalaman tersebut berubah menjadi kuasa.
Senioritas menjadi tidak sehat ketika seseorang merasa bahwa karena ia lebih dahulu berproses, maka pendapatnya harus lebih didengar, keinginannya harus diikuti, bahkan keputusan organisasi harus mendapat persetujuannya. Pada titik itu, senior tidak lagi berfungsi sebagai pembimbing, melainkan sebagai pengendali.
Menurut saya, ukuran seorang senior seharusnya sederhana: apa yang ia berikan kepada generasi setelahnya?
Jika memiliki ilmu, bagikan ilmu. Jika memiliki pengalaman, jadikan itu pelajaran. Jika memiliki jaringan, bukakan akses. Jika memiliki kemampuan ekonomi, bantu sejauh mampu. Jika memiliki posisi sosial atau profesional, gunakan untuk memperluas ruang tumbuh kader.
Yang paling penting, senior harus memberikan teladan.
GMKI sejak lama hidup dengan semangat Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, dan Tinggi Pengabdian. Maka hubungan senior dan kader semestinya juga berada dalam kerangka pengabdian tersebut. Semakin lama seseorang berada dalam keluarga besar GMKI, seharusnya semakin besar pula kemampuannya untuk memperkuat generasi berikutnya.
Bukan sebaliknya.
Kader tidak boleh dibentuk menjadi generasi yang selalu menunggu petunjuk senior. Organisasi mahasiswa adalah ruang belajar kepemimpinan. Di dalamnya, kader harus diberi kesempatan berpikir, mengambil keputusan, melakukan kesalahan, mempertanggungjawabkan pilihan, lalu bertumbuh dari proses itu.
Menghormati senior tentu penting. Namun menghormati tidak sama dengan kehilangan kemerdekaan berpikir.
Senior yang baik tidak meminta kader mengikuti semua pikirannya. Ia menawarkan perspektif, memberi pertimbangan, lalu membiarkan kader mengambil keputusan dengan tanggung jawabnya sendiri.
Karena itu, menurut saya keterlibatan senior di GMKI perlu terus diarahkan dari intervensi menuju mentoring.
Bukan menentukan siapa yang harus menjadi ketua, tetapi membantu menyiapkan banyak kader yang layak menjadi pemimpin.
Bukan mengatur komposisi kepengurusan, tetapi meningkatkan kapasitas orang-orang yang akan mengisinya.
Bukan membangun kelompok loyalis, tetapi membangun generasi yang kritis, mandiri, dan berintegritas.
Pada akhirnya, kualitas seorang senior bukan diukur dari seberapa banyak junior yang menurut kepadanya.
Kualitas senior terlihat dari seberapa banyak kader yang menjadi lebih baik karena pernah belajar darinya.
Karena senior bukan kasta. Senior bukan pemilik organisasi. Senior hanyalah orang yang mendapat kesempatan lebih dahulu untuk belajar dan berproses.
Maka konsekuensi moralnya juga sederhana: mereka yang datang lebih dahulu seharusnya membantu mereka yang datang kemudian untuk melangkah lebih jauh.
Kalau kehadiran senior menghasilkan ilmu, kesempatan, keteladanan, daya, dan penguatan, maka senioritas menjadi berkat bagi organisasi.
Tetapi jika senioritas hanya dipakai untuk mengatur, menitipkan kepentingan, membangun pengaruh, atau mempertahankan kendali, kita patut bertanya:
itu sedang menjalankan fungsi senior, atau sekadar mengolah kader?
Ut Omnes Unum Sint.

