JAKARTA – Demensia merupakan kondisi yang memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain gangguan ingatan, perubahan kebiasaan makan juga dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan pada lansia.
Perubahan tersebut dapat berupa kebiasaan memasak makanan yang lebih sederhana, kehilangan minat terhadap makanan, lupa waktu makan, hingga meningkatnya keinginan mengonsumsi makanan manis.
Demensia bukan satu penyakit tunggal, melainkan istilah untuk sekumpulan gejala akibat penurunan fungsi kognitif. Penyakit Alzheimer merupakan salah satu penyebab demensia yang paling umum.
Ahli neurologi dari Mind/Brain Institute di Johns Hopkins University, Majid Fotuhi, mengatakan bahwa keluarga sering kali menyadari perubahan perilaku sehari-hari sebelum mengenali adanya gangguan ingatan.
“Sebagai seorang ahli neurologi yang telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari kesehatan otak, salah satu pernyataan paling umum dari keluarga pengidap demensia adalah ‘ibu saya mulai makan dengan aneh’,” ujar Fotuhi, seperti dikutip dari HuffPost.
1. Kebiasaan Memasak Berubah Menjadi Lebih Sederhana
Perubahan cara menyiapkan makanan dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, seseorang yang sebelumnya terbiasa memasak beragam hidangan dengan langkah-langkah rumit mulai memilih menu yang jauh lebih sederhana.
Ahli neurologi dari New York University, Joel Salinas, menjelaskan bahwa menyiapkan makanan yang kompleks membutuhkan kemampuan perencanaan, pengorganisasian, dan pengambilan keputusan.
Pada orang dengan demensia, kemampuan tersebut dapat mengalami penurunan. Akibatnya, kegiatan seperti merencanakan menu, berbelanja bahan makanan, mengikuti resep, dan memasak beberapa hidangan sekaligus bisa menjadi lebih sulit.
Meski demikian, perubahan menu tidak selalu menunjukkan demensia. Faktor usia, kondisi fisik, kelelahan, perubahan suasana hati, dan keterbatasan aktivitas juga dapat memengaruhi kebiasaan memasak seseorang.
2. Kehilangan Minat terhadap Makanan
Tanda lain yang patut diperhatikan adalah berkurangnya minat terhadap makanan yang sebelumnya disukai.
Perubahan fungsi otak pada sebagian orang dengan demensia dapat memengaruhi penciuman, persepsi rasa, serta kenikmatan saat makan. Akibatnya, makanan yang dahulu terasa lezat mungkin mulai dianggap hambar atau tidak menarik.
Jika perubahan tersebut berlangsung terus-menerus, asupan makanan seseorang dapat berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penurunan berat badan, kekurangan nutrisi, dan dehidrasi.
Keluarga sebaiknya memperhatikan apakah orang tua mulai sering meninggalkan makanan, kehilangan selera makan, atau mengalami perubahan berat badan yang tidak disengaja.
Namun, hilangnya nafsu makan juga dapat disebabkan oleh masalah gigi dan mulut, efek samping obat, depresi, gangguan pencernaan, atau penyakit lainnya. Karena itu, penyebabnya perlu dinilai secara menyeluruh.
3. Sering Lupa Waktu Makan
Gangguan ingatan merupakan salah satu gejala yang dapat muncul pada demensia. Kondisi ini bisa membuat seseorang lupa apakah sudah makan, melewatkan jadwal makan, atau kesulitan mengikuti rutinitas sehari-hari.
Ahli neurologi Adam Mednick menjelaskan bahwa demensia juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengenali dan menafsirkan sinyal internal tubuh, termasuk rasa lapar dan kenyang.
“Demensia mempersulit penafsiran sinyal internal tubuh untuk rasa lapar dan kenyang,” ujar Mednick.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi pola makan secara berbeda pada setiap orang. Sebagian mungkin makan lebih sedikit karena lupa atau tidak merasakan lapar, sedangkan yang lain dapat makan berulang kali karena lupa sudah menyantap makanan.
“Hasilnya bisa ke mana saja, menyebabkan makan terlalu sedikit atau dalam beberapa kasus, makan berlebihan,” ujarnya.
Untuk membantu lansia, keluarga dapat membuat jadwal makan yang teratur, menyediakan makanan yang mudah dijangkau, dan memperhatikan kecukupan asupan harian.
4. Keinginan Mengonsumsi Makanan Manis Meningkat
Perubahan selera makan, termasuk meningkatnya keinginan mengonsumsi makanan manis, juga dilaporkan pada sebagian orang dengan demensia.
Menurut Mednick, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pada bagian otak yang berperan dalam pengendalian impuls dan pengambilan keputusan.
Kecenderungan ini secara khusus dapat ditemukan pada sebagian penderita demensia frontotemporal atau frontotemporal dementia (FTD), yaitu kelompok gangguan yang memengaruhi lobus frontal dan temporal otak.
“Lobus frontal biasanya membantu kita mengatur impuls dan pilihan makanan. Saat rusak, pengaturan itu melemah, dan sering kali muncul ketertarikan yang kuat terhadap makanan manis,” jelasnya.
Meski begitu, menyukai makanan manis bukan berarti seseorang mengalami demensia. Perubahan selera makan perlu dilihat bersama gejala lain, riwayat kesehatan, dan perubahan fungsi sehari-hari.
Kapan Perubahan Kebiasaan Makan Perlu Diperiksakan?
Perubahan kebiasaan makan tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami demensia. Namun, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan jika perubahan tersebut menetap, semakin jelas, atau muncul bersamaan dengan gejala lain.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain:
- Sering lupa terhadap kejadian atau percakapan yang baru berlangsung.
- Kesulitan merencanakan kegiatan yang sebelumnya mudah dilakukan.
- Mengalami kebingungan dalam menjalankan rutinitas sehari-hari.
- Mengalami perubahan perilaku atau kepribadian yang tidak biasa.
- Kesulitan mengelola aktivitas mandiri, termasuk menyiapkan makanan.
Majid Fotuhi mengingatkan bahwa perubahan perilaku makan yang menetap perlu dievaluasi secara medis, bukan hanya ditebak penyebabnya.
Pemeriksaan dapat membantu dokter menilai apakah perubahan tersebut berkaitan dengan demensia, efek obat, gangguan suasana hati, kekurangan nutrisi, atau kondisi kesehatan lainnya.
Hingga saat ini, penanganan demensia disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing pasien. Sebagian terapi dapat membantu mengendalikan gejala atau memperlambat perkembangan penyakit tertentu, sementara dukungan keluarga dan penyesuaian aktivitas sehari-hari berperan penting dalam menjaga kualitas hidup.
Dengan mengenali perubahan sejak dini dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, keluarga dapat membantu lansia memperoleh pemeriksaan serta dukungan yang sesuai.

