JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) membidik tambahan produksi gabah kering panen (GKP) hingga 2 juta ton melalui penerapan program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS). Program ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan melalui penambahan populasi tanaman dan penggunaan sarana produksi berkualitas.
Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementan, Ladiyani Retno Widowati, mengatakan strategi tersebut disiapkan untuk menjaga produksi pertanian di tengah tantangan cuaca ekstrem dan fenomena El Niño.
Menurut Retno, kondisi cuaca yang tidak menentu telah memengaruhi luasan tanam reguler. Luasan tersebut disebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga diperlukan langkah teknis untuk meningkatkan hasil panen dari lahan yang tersedia.
“Kita tahu saat ini El Nino sedang melanda kita, kemudian kalau luas tanaman yang secara reguler saja itu jumlahnya agak turun daripada tahun 2025. Berarti kita harus mencari solusi bagaimana meningkatkan produktivitas suatu lahan,” ujar Ladiyani dalam Diskusi Publik Agripulse di Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).
PMAAS Andalkan Peningkatan Populasi Tanaman
Ladiyani menjelaskan, program PMAAS berfokus pada peningkatan populasi tanaman dan pemanfaatan sarana produksi yang berkualitas. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas per hektare sehingga penurunan luas tanam dapat diimbangi dengan hasil panen yang lebih tinggi.
Menurutnya, teknologi pertanian modern yang diterapkan telah melalui uji coba di lapangan. Evaluasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi disebut menunjukkan adanya peningkatan hasil panen.
Ia menyampaikan bahwa peningkatan produksi pada sejumlah lokasi bahkan mencapai lebih dari dua ton hingga lima ton per hektare dibandingkan hasil sebelumnya.
“Dengan meningkatnya populasi, itu diharapkan produksinya meningkat, dan ini sudah dilakukan oleh teman-teman BRMP, itu peningkatan atau deltanya, delta peningkatan produksinya itu di atas 2 ton, bahkan ada yang 5 ton per hektarnya,” tuturnya.
Hasil tersebut menjadi dasar optimisme Kementan dalam mendorong peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi dan pengelolaan pertanaman yang lebih intensif.
Target Tambahan Produksi Mencapai 2 Juta Ton GKP
Untuk mengejar target produksi nasional, Kementan menargetkan penerapan pertanian modern pada lahan dengan luasan mendekati satu juta hektare hingga akhir tahun anggaran.
Dukungan juga dilakukan melalui penyaluran benih unggul dan sarana produksi ke berbagai daerah sentra pertanian. Bantuan tersebut diharapkan mendukung peningkatan produktivitas sekaligus memperkuat produksi pangan nasional.
Ladiyani menjelaskan, perhitungan target tambahan produksi didasarkan pada asumsi peningkatan hasil rata-rata sekitar dua ton per hektare. Jika peningkatan tersebut tercapai pada lahan yang mendekati satu juta hektare, tambahan produksi diperkirakan dapat mencapai sekitar dua juta ton gabah kering panen.
“Untuk tahun ini berarti kan tahun anggarannya adalah sampai Desember. Ini terus dilakukan, kebetulan di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bantuan benih itu terus dilakukan supaya tadi produktivitas dan produksinya dengan luasan yang mendekati hampir 1 juta itu kalau kita ambil deltanya saja 2 ton, berarti itu akan terjadi kenaikan sekitar 2 juta GKP,” pungkas Retno.
Meski demikian, pencapaian target tersebut bergantung pada realisasi luas pertanaman, keberhasilan penerapan teknologi, kondisi cuaca, serta hasil panen aktual di masing-masing daerah.
Pertanian Modern Diharapkan Menjaga Produksi di Tengah El Niño
Tantangan cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam upaya meningkatkan produksi gabah. El Niño dapat memengaruhi ketersediaan air dan kondisi pertanaman, bergantung pada intensitas serta dampaknya di wilayah masing-masing.
Melalui PMAAS, Kementan berupaya meningkatkan hasil dari lahan yang ditanami dengan mengoptimalkan populasi tanaman dan dukungan sarana produksi.
Keberhasilan program ini nantinya perlu dilihat dari realisasi luas tanam, produktivitas per hektare, dan tambahan produksi yang benar-benar tercatat saat panen.
Dengan dukungan teknologi, benih berkualitas, dan pengelolaan lahan yang tepat, program pertanian modern diharapkan dapat membantu menjaga produksi gabah nasional di tengah tantangan perubahan cuaca.

