JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membidik penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari batu bara mencapai Rp165 triliun pada 2026. Target tersebut lebih tinggi Rp31,37 triliun dibandingkan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp133,63 triliun.
Bahlil menyampaikan target tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna, Rabu (21/10/2026). Ia menyebut tambahan penerimaan itu diharapkan dapat membantu menutup defisit anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Dalam paparannya, Bahlil melaporkan realisasi PNBP batu bara hingga Oktober 2026 telah mencapai Rp127,74 triliun atau 98,42 persen dari target APBN.
“Target kita nanti untuk membantu Menteri Keuangan (Suahasil Nazara) dalam rangka menambal defisit terhadap subsidi BBM, itu kita akan mencapai Rp165 triliun,” kata Bahlil.
Jika target Rp165 triliun tercapai, penerimaan PNBP batu bara akan melampaui target APBN sekitar Rp31,37 triliun. Angka tersebut menunjukkan potensi penerimaan di atas target anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.
Penerimaan Batu Bara Naik Dibandingkan 2025
Bahlil membandingkan realisasi PNBP batu bara hingga Oktober 2026 dengan periode yang sama pada 2025. Pada tahun lalu, penerimaan dari sektor tersebut tercatat sebesar Rp94,98 triliun.
Sementara itu, realisasi hingga Oktober 2026 telah mencapai Rp127,74 triliun. Dengan demikian, penerimaan yang dilaporkan meningkat Rp32,76 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemerintah membidik penerimaan sebesar Rp165 triliun hingga akhir 2026. Namun, pencapaian angka tersebut masih bergantung pada realisasi penerimaan selama sisa tahun berjalan.
Volume Ekspor Turun, Nilai Ekspor Justru Meningkat
Bahlil mengatakan peningkatan penerimaan negara terjadi ketika volume ekspor batu bara mengalami penurunan.
Pada Januari–September 2025, volume ekspor batu bara tercatat mencapai 374 juta ton. Pada periode yang sama tahun 2026, volume ekspor turun menjadi 343 juta ton atau berkurang sekitar 31 juta ton.
Meski volume ekspor menurun, nilai ekspor batu bara justru meningkat. Bahlil mencatat nilai ekspor pada Januari–September 2025 mencapai US$21 miliar, sedangkan pada periode yang sama 2026 naik menjadi US$23,71 miliar.
Perbedaan arah antara volume dan nilai ekspor tersebut menunjukkan bahwa nilai ekspor yang dilaporkan meningkat meskipun jumlah batu bara yang diekspor lebih sedikit. Namun, data tersebut saja belum cukup untuk memastikan faktor penyebab kenaikan nilai ekspor maupun besarnya kontribusi terhadap PNBP.
Target PNBP batu bara sebesar Rp165 triliun menjadi salah satu angka yang disoroti pemerintah dalam upaya meningkatkan penerimaan negara. Realisasi hingga akhir 2026 akan menentukan apakah target tersebut dapat tercapai sekaligus melampaui sasaran yang ditetapkan dalam APBN.

