Jakarta — Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini, menyatakan bahwa rakyat Iran akan mengalami penderitaan apabila rezim teokrasi di negara tersebut runtuh.

Pernyataan itu disampaikan Hassan Khomeini di tengah gelombang demonstrasi besar yang melanda Iran dan dilaporkan telah menelan ribuan korban jiwa. Ia menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan media pemerintah Iran, IRIB, yang disiarkan pada Selasa (13/1).

“Sehari setelah Republik Islam runtuh, tidak akan ada keamanan, kebebasan, maupun kesejahteraan di negara ini,” kata Hassan Khomeini.

Dalam pernyataannya, Hassan Khomeini juga mengklaim bahwa keresahan yang terjadi di Iran dipicu oleh aksi “terorisme” bergaya ISIS. Ia menegaskan bahwa rangkaian peristiwa yang terjadi tidak berkaitan dengan aksi protes.

“Peristiwa sejak Kamis malam dan seterusnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan aksi protes. Kami menyaksikan tingkat kekerasan yang tidak sejalan dengan sensitivitas masyarakat Iran,” ujarnya, seperti dikutip media pemerintah Iran dan dilansir CNN.

Pemimpin Revolusi Islam 1979

Hassan Khomeini merupakan cucu dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Islam Iran 1979 yang berhasil menggulingkan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi, penguasa monarki Iran yang telah berkuasa dalam waktu lama.

Ayatollah Ruhollah Khomeini hingga kini masih menjadi sosok yang dikagumi oleh sebagian besar masyarakat Iran serta penganut Syiah di berbagai negara. Ia lahir pada 4 September 1902 dan wafat pada 3 Juni 1989 di Teheran, Iran.

Khomeini tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama Syiah. Berdasarkan catatan Britannica, ayahnya meninggal dunia ketika Khomeini masih berusia lima bulan akibat dibunuh oleh seorang tuan tanah. Ia kemudian dibesarkan oleh ibu dan bibinya, sebelum akhirnya diasuh oleh kakak tertuanya, Morteza, yang dikenal sebagai Ayatollah Pasandideh.

Sejak usia muda, Khomeini menempuh pendidikan agama di berbagai tempat, termasuk di kota Qom, yang dikenal sebagai pusat pendidikan Syiah di Iran.

Ketika kekuasaan Reza Pahlavi semakin kuat dengan dukungan Amerika Serikat dan Israel, Khomeini tampil sebagai pengkritik keras kebijakan pemerintah, terutama program “Revolusi Putih” yang dianggap mendorong sekularisasi dan liberalisasi masyarakat Iran.

Akibat kritiknya, Khomeini diasingkan pada 1964 ke Turki, kemudian dipindahkan ke Irak. Masa pengasingan tersebut justru meningkatkan simpati rakyat Iran kepadanya dan memperkuat kebencian terhadap pemerintahan Reza Pahlavi yang dinilai otoriter dan represif.

Puncaknya terjadi pada Revolusi Islam 1979 yang berhasil menyatukan berbagai kelompok sosial di Iran, termasuk ulama, pemilik tanah, intelektual, dan pedagang. Persatuan lintas kelompok ini memiliki akar sejarah panjang, termasuk pengalaman Revolusi Konstitusional Iran pada 1905–1911.

Meski demikian, upaya reformasi di Iran kerap terhambat oleh ketegangan sosial serta campur tangan asing dari Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat. Dukungan luas dari berbagai lapisan masyarakat akhirnya mengantarkan Khomeini ke tampuk kekuasaan tertinggi.

Sejak saat itu, Iran mengubah sistem kenegaraannya dari sekuler menjadi teokrasi dengan Ayatollah Khomeini sebagai pemimpin tertinggi, sebuah sistem yang bertahan hingga saat ini.