Jakarta — Populasi Harimau Malaya terus menyusut dengan cepat. Dari sekitar 3.000 ekor pada 1950, kini jumlahnya diperkirakan hanya 150 ekor. Kondisi tersebut mendorong berbagai upaya perlindungan, mulai dari program konservasi hingga pembangunan cagar alam.

Malaysia terancam kehilangan salah satu satwa endemiknya. Menyikapi situasi ini, Putra Mahkota Pahang Tengku Hassanal Ibrahim Alam Shah menggagas program konservasi bertajuk Save the Malayan Tiger.

Selain itu, ia juga membangun cagar alam harimau kerajaan pertama di Asia Tenggara, yakni Al-Sultan Abdullah Royal Tiger Reserve (ASARTR) yang resmi berdiri pada 2023.

ASARTR mencakup sebagian kawasan Taman Negara, taman nasional terbesar di Malaysia. Keberadaan cagar alam ini memperluas kawasan taman nasional lebih dari 30 persen, dengan total area mencapai 568.500 hektar yang disiapkan untuk pemulihan populasi harimau.

“Jika ada konektivitas antar hutan, populasi dapat tumbuh secara alami,” ujar Adrian Cheah Chor Eu, asisten koordinator proyek di organisasi nirlaba konservasi kucing liar internasional Panthera, seperti dilaporkan CNN.

Panthera turut mendukung pengelolaan cagar alam ini dengan memberikan masukan terkait strategi konservasi harimau.

Di kawasan ASARTR, harimau dapat berkeliaran bebas untuk mencari mangsa, membangun wilayah, serta terhindar dari konflik dengan manusia. Cagar alam tersebut juga dilengkapi dengan lebih dari 340 kamera untuk memantau pergerakan satwa.

“Kami mengamati kepadatan populasi harimau, di mana mereka berada, dan tentu saja, mangsa harimau,” kata Chin Weng Yuen, analis satwa liar di Panthera.

Upaya konservasi dilakukan melalui berbagai pendekatan. Organisasi nirlaba satwa liar Malaysia BORA berfokus pada peningkatan populasi mangsa harimau seperti rusa sambar dan babi hutan, yang sebelumnya sulit berkembang akibat ketidaksesuaian habitat dan perburuan liar.

Sementara itu, lembaga konservasi lokal The Habitat Foundation berperan dalam pengawasan keterlibatan masyarakat serta pelaksanaan proyek pariwisata berkelanjutan yang didanai pemerintah.

Upaya pelestarian Harimau Malaya ini juga berdampak positif bagi spesies kucing liar lainnya, seperti macan tutul, macan tutul berawan, kucing macan tutul, kucing berkepala pipih, kucing marmer, dan kucing emas Asia.

Sejauh ini, hasil konservasi mulai terlihat. Pada tahun lalu, kamera pemantau merekam keberadaan seekor induk harimau bersama dua anaknya, yang menandakan terjadinya perkembangbiakan di kawasan cagar alam.

“Itu cukup menarik dan sangat menggembirakan,” ujar Yuen.