Jakarta — Pernah menemukan tips kencan unik di media sosial? Salah satu yang sempat viral adalah “red nail theory”. Teori ini menyebut bahwa kuku yang dipulas warna merah dapat menarik perhatian pria. Lantas, benarkah demikian?

Istilah red nail theory pertama kali diperkenalkan oleh kreator TikTok, Robyn Delmonte. Dilansir dari Very Well Mind, teori ini menyebutkan bahwa penggunaan kuteks merah dapat meningkatkan peluang menarik perhatian calon pasangan.

Berdasarkan pengalaman Delmonte, ia kerap mendapatkan komentar dari pria setiap kali menggunakan cat kuku berwarna merah.

Fenomena ini kemudian ramai diikuti. Banyak pengguna media sosial mengaku merasakan respons serupa. Kreator konten Taylor Donoghue, misalnya, mengaku didekati empat pria setelah mengecat kukunya dengan warna merah.

Memahami Red Nail Theory dari Sisi Psikologis

Tindakan sederhana seperti mengecat kuku ternyata bisa memicu perhatian dan membuka peluang dalam interaksi sosial. Hal ini kemudian membuat red nail theory menarik untuk dicoba, terutama bagi mereka yang sedang mencari pasangan.

Psikolog Stefanie Mazer menjelaskan, secara psikologis, warna merah berkaitan erat dengan kepercayaan diri dan daya tarik.

“Jika seseorang yakin bahwa kuku merah membantu mereka menonjol, mereka berperilaku dan menampilkan diri secara berbeda, dan orang-orang akan memperhatikannya,” ujar Mazer seperti dikutip dari Woman’s Health Magazine.

Lalu, apa yang membuat warna merah begitu kuat dalam menarik perhatian?

Sebuah penelitian yang terbit pada 2008 kerap dijadikan rujukan dalam membahas efek warna merah. Dalam studi tersebut, peneliti menemukan bahwa pria cenderung menilai wanita yang mengenakan warna merah sebagai lebih menarik dan diinginkan secara seksual.

Penelitian lanjutan juga menunjukkan bahwa efek ini tidak terbatas pada budaya Barat. Temuan serupa ditemukan di China, yang mengindikasikan bahwa respons terhadap warna merah bersifat lintas budaya.

“Menurut psikologi evolusioner, merah mungkin telah berevolusi di banyak spesies untuk menandakan dominasi, vitalitas, dan kesuburan,” kata Mazer.

Meski begitu, efektivitas red nail theory tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang merasakan dampaknya, namun tidak sedikit pula yang tidak melihat perubahan berarti.

Mazer menegaskan bahwa teori ini tidak bekerja secara instan seperti yang sering digambarkan di media sosial. Persepsi terhadap warna merah bisa berbeda-beda pada setiap individu.

Pada akhirnya, kekuatan utama dari warna merah justru terletak pada rasa percaya diri penggunanya. Ketika seseorang merasa lebih percaya diri dengan kuku merah, hal itu akan tercermin dalam sikap dan energi yang ditampilkan.

“Dalam hal ini, kuku merah mungkin lebih efektif karena meningkatkan persepsi diri daripada karena warnanya sendiri,” ujar Mazer.