JAKARTA — Osteoporosis selama ini kerap dikaitkan dengan usia lanjut. Namun, kondisi yang menyebabkan tulang menjadi rapuh tersebut juga dapat terjadi pada anak-anak. Karena anak belum tentu mampu menjelaskan keluhan yang dirasakan, orang tua perlu mengenali faktor risiko osteoporosis serta tanda-tanda patah tulang agar pemeriksaan medis dapat dilakukan tepat waktu.
Pentingnya menjaga kesehatan tulang sejak dini sejalan dengan peringatan Hari Osteoporosis Sedunia pada 20 Oktober 2026 yang mengusung tema “Build, Protect, Strengthen Your Bones for Life”. Tema tersebut menekankan pentingnya membangun, melindungi, dan memperkuat tulang sepanjang hidup, dimulai sejak masa kanak-kanak.
Mengutip laman World Osteoporosis Day, kesehatan tulang perlu mendapat perhatian sejak dini. Kebiasaan hidup sehat selama masa pertumbuhan berperan penting dalam mendukung perkembangan tulang yang kuat.
Apa Itu Osteoporosis pada Anak?
Dokter Anak Konsultan Endokrinologi, Karina Sugih Arto, melalui laman Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi), menjelaskan bahwa diagnosis osteoporosis pada anak mempertimbangkan riwayat patah tulang atau fraktur yang signifikan secara klinis serta nilai densitas mineral tulang.
Secara umum, osteoporosis pada anak dapat ditegakkan apabila terdapat riwayat fraktur yang signifikan secara klinis disertai nilai densitas mineral tulang dengan skor-Z kurang dari atau sama dengan -2.
Riwayat fraktur yang dimaksud meliputi dua atau lebih patah tulang panjang sebelum anak berusia 10 tahun, atau tiga atau lebih patah tulang panjang pada usia 10–19 tahun.
Selain itu, satu atau lebih fraktur kompresi tulang belakang yang terjadi tanpa trauma berat atau penyakit lokal yang menjadi penyebabnya juga dapat menunjukkan osteoporosis pada anak, meskipun nilai skor-Z masih berada dalam batas normal.
Penilaian tersebut perlu dilakukan oleh tenaga medis dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan penunjang. Jumlah patah tulang saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis secara mandiri.
Penyebab dan Faktor Risiko Osteoporosis pada Anak
Osteoporosis pada anak secara umum dibedakan menjadi dua jenis, yaitu osteoporosis primer dan sekunder.
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer berkaitan dengan kelainan yang secara langsung memengaruhi kekuatan tulang, termasuk kelainan genetik yang menyebabkan tulang lebih mudah mengalami kerapuhan.
Beberapa kondisi yang berkaitan dengan osteoporosis primer antara lain:
-
Osteogenesis imperfecta (OI), yaitu kelainan genetik yang menyebabkan tulang mudah patah.
-
Sindrom Ehlers-Danlos, kelompok kelainan jaringan ikat yang dapat memengaruhi sejumlah bagian tubuh.
-
Sindrom Marfan, kelainan jaringan ikat yang dapat memengaruhi tulang dan struktur tubuh lainnya.
Selain itu, terdapat osteoporosis juvenil idiopatik, yaitu kondisi osteoporosis pada anak yang penyebab pastinya belum diketahui. Kondisi ini dapat ditandai dengan nyeri tulang, perubahan bentuk tulang, patah tulang, dan rendahnya densitas mineral tulang.
2. Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder terjadi ketika penyakit tertentu atau pengobatan memengaruhi pembentukan, penyerapan kembali, maupun mineralisasi tulang.
Mengutip Royal Osteoporosis Society, sejumlah kondisi yang dapat berkontribusi terhadap osteoporosis pada anak meliputi:
-
Penyakit peradangan, seperti artritis juvenil dan penyakit Crohn.
-
Gangguan nutrisi, termasuk anoreksia dan kondisi yang menyebabkan asupan zat gizi tidak mencukupi.
-
Gangguan hormon, seperti pubertas terlambat atau rendahnya kadar hormon seks.
-
Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid dosis tinggi dalam jangka panjang.
-
Keterbatasan mobilitas, misalnya akibat cerebral palsy, cedera sumsum tulang belakang, atau distrofi otot Duchenne.
-
Penyakit dan gangguan lainnya, seperti leukemia, penyakit ginjal, serta gangguan endokrin.
Meski memiliki kondisi tersebut, tidak semua anak akan mengalami osteoporosis. Risiko setiap anak berbeda-beda, bergantung pada penyakit yang mendasari, pengobatan, status nutrisi, aktivitas fisik, dan faktor kesehatan lainnya.
Karena itu, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila anak memiliki penyakit kronis, menggunakan obat tertentu dalam jangka panjang, atau mengalami patah tulang berulang.
Lima Tanda Patah Tulang pada Anak yang Perlu Diwaspadai
Patah tulang atau fraktur pada anak tidak selalu mudah dikenali. Anak yang masih kecil mungkin kesulitan menjelaskan lokasi dan tingkat nyeri yang dialaminya.
Mengutip informasi kesehatan dari HealthyChildren, terdapat sejumlah tanda yang dapat membantu orang tua mengenali kemungkinan patah tulang.
1. Bengkak pada bagian yang cedera
Bagian tubuh yang mengalami patah tulang dapat terasa nyeri dan membengkak. Anak juga mungkin enggan menggunakan atau menggerakkan lengan maupun tungkai yang cedera.
Namun, anak yang masih mampu menggerakkan anggota tubuhnya belum tentu terbebas dari kemungkinan patah tulang. Pemeriksaan medis tetap diperlukan jika terdapat kecurigaan fraktur.
2. Nyeri pada titik tertentu
Nyeri yang terpusat pada satu bagian tulang dapat menjadi tanda patah tulang, terutama setelah anak terjatuh atau mengalami benturan.
Orang tua sebaiknya tidak berulang kali menekan bagian yang sakit untuk memastikan adanya cedera. Jika nyeri menetap atau anak kesulitan menggunakan anggota tubuhnya, segera cari pertolongan medis.
3. Perubahan warna kulit
Memar berwarna kebiruan atau keunguan dapat muncul akibat kerusakan pembuluh darah di sekitar area cedera.
Meski demikian, memar tidak selalu berarti tulang mengalami patah. Sebaliknya, patah tulang juga dapat terjadi tanpa memar yang terlihat jelas.
4. Bentuk anggota tubuh berubah
Lengan atau tungkai yang terlihat bengkok, lebih pendek, atau membentuk sudut tidak wajar merupakan tanda yang perlu segera diperiksa.
Jika tulang menembus kulit, kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis darurat. Jangan mencoba meluruskan tulang atau mendorongnya kembali ke dalam kulit. Tutupi luka secara longgar dengan kain atau kasa bersih dan segera bawa anak ke instalasi gawat darurat.
5. Terdengar bunyi retak saat cedera
Bunyi retak atau letupan ketika cedera, terutama jika disertai nyeri hebat, pembengkakan, atau perubahan bentuk anggota tubuh, dapat mengindikasikan patah tulang.
Namun, tidak semua patah tulang menimbulkan bunyi. Bunyi pada sendi juga tidak selalu menandakan fraktur sehingga diagnosis perlu dilakukan melalui pemeriksaan medis.
Cara Menjaga Kesehatan Tulang Anak Sejak Dini
Pencegahan dan pemeliharaan kesehatan tulang perlu dilakukan sejak masa pertumbuhan. Orang tua dapat mendukung perkembangan tulang anak melalui beberapa kebiasaan berikut:
-
Memenuhi kebutuhan nutrisi. Berikan makanan bergizi seimbang dengan asupan kalsium dan protein yang cukup sesuai usia anak.
-
Mendukung aktivitas fisik. Dorong anak melakukan aktivitas fisik yang sesuai dengan usia dan kondisi kesehatannya.
-
Menerapkan kebiasaan hidup sehat. Pastikan anak mendapatkan pola makan dan istirahat yang memadai.
-
Memperhatikan riwayat kesehatan. Konsultasikan dengan dokter jika anak memiliki penyakit kronis, menggunakan obat jangka panjang, atau mengalami patah tulang berulang.
-
Segera memeriksakan cedera. Jangan mengabaikan nyeri, pembengkakan, atau perubahan bentuk anggota tubuh setelah anak mengalami benturan.
Anak yang telah didiagnosis mengalami osteoporosis atau memiliki riwayat patah tulang memerlukan arahan dokter mengenai aktivitas fisik dan penanganan yang aman. Jenis olahraga dan tingkat aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tulang masing-masing anak.
Melalui momentum Hari Osteoporosis Sedunia, orang tua diharapkan semakin memahami bahwa kesehatan tulang perlu dijaga sepanjang hidup, termasuk sejak masa kanak-kanak. Mengenali faktor risiko dan tanda patah tulang sejak dini dapat membantu anak memperoleh pemeriksaan serta penanganan yang tepat.

