Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau penguatan Monsun Australia yang berdampak pada meningkatnya cuaca panas di sejumlah wilayah Indonesia.

Penguatan Monsun Australia membawa massa udara kering serta mengurangi tutupan awan pada pagi hingga siang hari. Kondisi tersebut menyebabkan radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara lebih maksimal.

“Pada periode 4-6 Mei 2026, suhu maksimum lebih dari 35,0 derajat Celcius hingga 37,1 derajat Celcius tercatat di Kalimantan Timur, Papua Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara,” tulis BMKG dalam laporan Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 8-14 Mei.

Meski cuaca cenderung panas, BMKG menyebut kondisi tersebut tetap dapat memicu pola konvektivitas udara yang cukup signifikan sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan pada sore hingga malam hari.

Pada periode 4-6 Mei 2026, BMKG juga mencatat hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem di sejumlah wilayah, meskipun beberapa daerah mulai memasuki musim kemarau.

Curah hujan ekstrem tercatat di Jawa Barat sebesar 159 mm per hari, Kalimantan Barat 131,8 mm per hari, Banten 129,0 mm per hari, dan Jawa Tengah 120,0 mm per hari.

Selain itu, hujan lebat hingga ekstrem juga terjadi di Sulawesi Tenggara sebesar 129,8 mm per hari, DKI Jakarta 94,8 mm per hari, Maluku 78,0 mm per hari, Nusa Tenggara Timur 74,9 mm per hari, Sumatera Barat 67,0 mm per hari, Riau 62,0 mm per hari, serta Jambi 55,8 mm per hari.

BMKG menjelaskan kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang aktif secara bersamaan.

Selain itu, keberadaan Siklon Tropis Hagupit di wilayah utara Papua turut meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah.

Dalam sepekan ke depan, Monsun Australia diperkirakan akan semakin menguat. Hal itu terlihat dari dominasi aliran angin timuran pada pola angin zonal di sebagian besar wilayah Indonesia.

Pola tersebut mendukung masuknya massa udara dengan kandungan uap air yang relatif lebih rendah dari Australia ke wilayah Indonesia.

“Kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa beberapa wilayah mulai berangsur memasuki periode peralihan dari musim huan ke musim kemarau, sehingga potensi hujan juga berkurang di wilayah tersebut,” jelas BMKG.