Jakarta – Danantara Indonesia berhasil menghimpun dana sebesar US$1,5 miliar atau setara sekitar Rp26,92 triliun melalui penerbitan obligasi dolar AS perdana di pasar internasional.
Penggalangan dana tersebut dilakukan melalui unit usaha Danantara Investment Management (DIM) dan menjadi penerbitan obligasi dolar pertama sejak lembaga itu dibentuk pada Februari 2025.
Minat investor terhadap surat utang tersebut tercatat cukup tinggi. Berdasarkan dokumen penawaran yang dikutip Reuters, total permintaan mencapai lebih dari US$4,6 miliar hingga Kamis (11/6/2026) malam.
Tingginya permintaan investor mendorong Danantara meningkatkan nilai penerbitan obligasi dari target awal sekitar US$1 miliar menjadi US$1,5 miliar.
Dana tersebut diperoleh melalui penerbitan dua seri obligasi. Masing-masing senilai US$750 juta untuk tenor lima tahun dan US$750 juta untuk tenor 10 tahun.
Untuk tenor lima tahun, obligasi ditetapkan dengan imbal hasil (yield) sebesar 5,35 persen. Sementara obligasi tenor 10 tahun menawarkan yield sebesar 5,95 persen.
Kuatnya minat pasar juga memungkinkan Danantara menurunkan tingkat imbal hasil akhir sebesar 35 basis poin dibandingkan panduan harga awal yang sebelumnya ditawarkan kepada investor.
Pada tahap awal, yield obligasi lima tahun dipatok sekitar 5,70 persen, sedangkan obligasi tenor 10 tahun berada di kisaran 6,30 persen.
Penerbitan obligasi ini menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur minat investor global terhadap aset Indonesia di tengah berbagai dinamika ekonomi domestik.
Sebelumnya, sejumlah investor mencermati pelemahan nilai tukar rupiah, kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto, serta semakin luasnya peran Danantara dalam perekonomian nasional.
Transaksi tersebut juga berlangsung beberapa hari setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Langkah tersebut diambil di luar jadwal reguler sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh sejumlah level terendah baru.
Berdasarkan dokumen penawaran, dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk kebutuhan korporasi umum, termasuk pendanaan investasi serta pembiayaan kembali utang yang telah ada.
Obligasi tersebut dijadwalkan resmi diterbitkan pada 18 Juni 2026 dalam kerangka program Global Medium-Term Notes (GMTN) senilai US$5 miliar atau sekitar Rp89,71 triliun yang dimiliki Danantara Investment Management.
Sejumlah lembaga keuangan internasional dan regional bertindak sebagai penjamin emisi sekaligus pengelola buku dalam transaksi ini, yakni Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered.

