JAKARTA – Pemerintah resmi memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di Jawa Barat. Proyek senilai US$400 juta atau sekitar Rp7,2 triliun ini dirancang mampu mengolah 2.000 ton sampah per hari sekaligus menghasilkan energi listrik dari limbah perkotaan.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan PSEL Legok Nangka merupakan salah satu proyek strategis nasional yang bertujuan mengatasi persoalan sampah sekaligus mendukung transisi menuju energi baru terbarukan.
“PSEL Legok Nangka dirancang dengan kapasitas pembangkit 40,79 MW dengan pengolahan sampah sekitar 2.000 ton dan nilai investasi sebesar US$400 juta atau sekitar Rp7,2 triliun,” ujar Yuliot dalam acara groundbreaking PSEL Legok Nangka di Jawa Barat, Kamis (29/7).
Mampu Hasilkan Listrik 40,79 MW
PSEL Legok Nangka akan memiliki kapasitas pembangkit listrik sebesar 40,79 megawatt (MW).
Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, fasilitas ini juga diharapkan menjadi sumber energi bersih yang dapat mendukung kebutuhan listrik nasional.
Selama masa pembangunan, proyek tersebut diperkirakan akan menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja, sehingga turut memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.
Target Kurangi Emisi 311 Ribu Ton CO₂
Menurut Yuliot, manfaat proyek ini tidak hanya terbatas pada pengelolaan sampah dan penyediaan energi.
PSEL Legok Nangka diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 311 ribu ton CO₂ ekuivalen, sehingga mendukung target pemerintah dalam menekan emisi karbon.
“Selain menjadi solusi atas persoalan sampah perkotaan dan menghasilkan energi bersih, proyek ini juga diproyeksikan mengurangi emisi rumah kaca sebesar 311 ribu ton CO₂ equivalent,” katanya.
Ditargetkan Beroperasi Akhir 2029
Pemerintah memperkirakan proses konstruksi proyek berlangsung selama lebih dari 41 bulan, dengan target Commercial Operation Date (COD) pada akhir 2029.
Meski demikian, pemerintah berharap pembangunan dapat dipercepat agar fasilitas bisa mulai beroperasi lebih awal.
“Kami mengharapkan pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan percepatan sehingga PSEL Legok Nangka dapat beroperasi lebih awal,” ujar Yuliot.
Diharapkan Jadi Model Nasional
Yuliot menegaskan keberhasilan proyek ini membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, PT PLN (Persero), pengembang, lembaga pembiayaan, hingga masyarakat.
PSEL Legok Nangka juga diharapkan menjadi contoh pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi yang dapat diterapkan di berbagai wilayah Indonesia.
Selain mengurangi volume sampah, proyek ini diproyeksikan memberikan manfaat berupa penyediaan energi bersih, penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas ekonomi daerah, penurunan emisi karbon, hingga perbaikan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.

