Oleh : Nandus
Salah satu penyakit organisasi yang sering tidak disadari adalah kepemimpinan yang terlalu sentralistik. Keputusan berpusat pada segelintir orang—biasanya mereka yang paling senior, paling berpengalaman, atau paling lama berada di dalam organisasi.
Atas nama pengalaman, anggota muda diminta patuh. Atas nama tradisi, gagasan baru dicurigai. Organisasi memang tetap berjalan, tetapi tanpa disadari, kaderisasi perlahan-lahan mati.
Dalam pola seperti ini, anggota muda hanya diberi ruang untuk melaksanakan, bukan memutuskan. Mereka dilibatkan dalam kegiatan, tetapi tidak dalam menentukan arah. Mereka diminta bertanggung jawab, tetapi tidak diberi kewenangan yang sepadan. Mereka boleh berbicara, tetapi keputusan tetap kembali kepada orang-orang lama.
Lalu kita bertanya, “Mengapa tidak ada kader yang siap menggantikan?”
Jawabannya sederhana: karena mereka tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk menjadi siap.
Kader tidak lahir dari ceramah tentang kepemimpinan. Kader lahir dari pengalaman memimpin, kesempatan mengambil keputusan, keberanian mencoba, dan bahkan dari kesalahan yang kemudian diperbaiki.
Jika setiap kesalahan anak muda dianggap sebagai bukti ketidakmampuan, sementara kesalahan senior dianggap sebagai bagian dari pengalaman, maka organisasi sedang membangun ketergantungan, bukan kaderisasi.
Yang lebih berbahaya adalah ketika senioritas berubah menjadi monopoli kewenangan. Orang-orang lama merasa bahwa karena merekalah yang membangun organisasi, maka merekalah yang paling berhak menentukan masa depannya.
Padahal, membangun organisasi bukan berarti memiliki organisasi.
Kepemimpinan bukan hak untuk menguasai selamanya. Kepemimpinan adalah amanah untuk menyiapkan orang lain agar suatu hari mampu mengambil alih tanggung jawab.
Pemimpin yang sehat tidak takut kehilangan dominasi. Ia justru merasa berhasil ketika semakin banyak orang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan memimpin tanpa harus selalu menunggu instruksinya.
Sebab ada perbedaan besar antara menjadi pemimpin yang dibutuhkan dan menjadi pemimpin yang membuat dirinya selalu dibutuhkan.
Yang pertama melahirkan kader.
Yang kedua melahirkan ketergantungan.
Karena itu, organisasi perlu berani mengajukan pertanyaan yang tidak selalu nyaman:
Apakah kita sedang menyiapkan generasi penerus, atau hanya memperpanjang kekuasaan generasi yang sama?
Jika setiap regenerasi selalu berakhir dengan kalimat, “Belum ada yang siap menggantikan,” mungkin masalahnya bukan karena tidak ada orang yang mampu.
Bisa jadi, organisasi itu sendiri yang tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk menjadi mampu.
Regenerasi bukan sekadar mencari siapa yang paling pantas menggantikan pemimpin hari ini. Regenerasi adalah menciptakan proses agar selalu ada orang yang siap memimpin ketika pemimpin hari ini harus pergi.
Sebab organisasi yang sehat tidak dibangun agar bergantung pada satu generasi, apalagi satu figur.
Pemimpin sejati bukanlah mereka yang berhasil membuat organisasi tidak bisa berjalan tanpa dirinya. Pemimpin sejati adalah mereka yang berhasil membuat organisasi tetap berjalan, bahkan ketika dirinya sudah tidak ada.
Jika sebuah organisasi baru merasa kehilangan ketika tokoh-tokoh senior pergi, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menyiapkan generasi setelah mereka, maka yang sedang dipertahankan bukan keberlangsungan organisasi.
Yang sedang dipertahankan adalah ketergantungan kepada figur.

