Jakarta — Sejumlah kandidat unik meramaikan pemilihan umum Brasil 2026. Mereka menggunakan nama dan penampilan yang menyerupai tokoh terkenal, mulai dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga vokalis The Rolling Stones, Mick Jagger, untuk menarik perhatian pemilih.

Salah satunya adalah pilot helikopter Plínio Vicentin Júnior, 59 tahun, yang mencalonkan diri sebagai anggota Kongres Brasil. Ia mengubah penampilannya agar menyerupai Trump, mulai dari gaya rambut, dasi oranye panjang, hingga cara berjalan dan berjabat tangan.

Saat berkampanye di Minas Gerais, Brasil bagian tenggara, Júnior mengendarai mobil klasik Pontiac Grand Ville dengan bendera Amerika Serikat berkibar di dekat kaca depan. Penampilannya menarik perhatian warga yang melintas.

Júnior menggunakan nama kampanye Plínio Trump dan mengaku mendapat sambutan positif dari masyarakat.

“(Trump) disukai, ikonik. Hanya sedikit orang yang mencemooh saya. Kebanyakan orang tersenyum dan memeluk saya,” kata Plínio Trump kepada Associated Press di Juiz de Fora, Senin (28/9) malam.

Fenomena kandidat dengan nama dan penampilan unik bukan hal baru di Brasil. Tradisi tersebut telah berlangsung selama hampir delapan dekade. Pada pemilu 2026, beberapa ratus kandidat semacam ini ikut bersaing di antara lebih dari 7.800 calon anggota Kongres, selain kandidat untuk lembaga legislatif negara bagian.

Ada Barack Obama hingga Mick Jagger

Plínio Trump bukan satu-satunya kandidat yang menggunakan nama tokoh terkenal.

Ada Henrique Barack Obama, yang nama aslinya Claudio Henrique dos Anjos. Pria berusia 57 tahun itu mencalonkan diri untuk kursi Senat di Distrik Federal, wilayah yang mencakup ibu kota Brasil, Brasilia.

Namun, penampilan Henrique tidak terlalu mirip dengan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Menurut temannya, Claudio Santos, penggunaan nama tersebut lebih berkaitan dengan citra dan perhatian yang ingin diperolehnya.

“Itu lebih tentang sikapnya. Dia juga menyukai perhatian yang diberikan nama tersebut,” kata Santos seperti dikutip Associated Press.

Kandidat lain menggunakan nama Mick Jagger. Nama aslinya adalah Walcy Calixto Vieira, seorang tukang kayu berusia 66 tahun yang kembali mencalonkan diri untuk legislatif negara bagian Goias.

Penampilan Walcy ditandai dengan rambut berantakan dan poni panjang yang menutupi alis, menyerupai gaya vokalis The Rolling Stones tersebut.

Ada pula kandidat yang memilih nama panggilan tanpa meniru selebritas. Scheile Aparecida Soares Brandão mencalonkan diri dengan nama “Nenek Tsunami” di Minas Gerais. Sementara itu, Francisco das Chagas Costa Oliveira menggunakan nama “Siapa Siapa” dalam pemilihan legislatif di Piaui.

Seorang sopir truk dari Parana, Marcelo da Rosa, memilih nama “Lonely Boy” untuk mencalonkan diri sebagai anggota Kongres. Adapun Severino Cardoso Sobrinho, yang dikenal sebagai Samurai Taxi Driver, maju dalam pemilihan legislatif Pernambuco. Ia merupakan ahli nunchaku yang kerap tampil dalam video Instagram.

Tradisi Kandidat Unik Berawal dari Badak

Tradisi kandidat dengan nama atau gaya unik di Brasil memiliki sejarah panjang. Salah satu kisah yang paling terkenal terjadi pada 1959, ketika sekitar 100 ribu pemilih di Sao Paulo menuliskan nama Cacareco, seekor badak betina dari kebun binatang setempat, pada surat suara pemilihan dewan kota.

Otoritas pemilu kemudian membatalkan suara tersebut. Tradisi semacam ini menghilang selama masa kediktatoran militer Brasil pada 1964-1985 dan kembali muncul setelah pemilihan nasional pada 1989.

Salah satu kandidat yang mencuri perhatian setelah periode tersebut adalah dokter jantung Enéas Carneiro. Ia dikenal melalui pidato cepat dan gaya bicara menggebu-gebu dalam iklan kampanye berdurasi 15 detik.

Carneiro memperoleh sekitar 360 ribu suara dalam pemilihan presiden 1989. Pada pemilu 1994, ia meraih sekitar 4,6 juta suara dan menempati posisi ketiga, di bawah Luiz Inacio Lula da Silva dan pemenang pemilu Fernando Henrique Cardoso.

Popularitas kandidat unik mencapai titik lain pada 2010 ketika Tiririca, seorang badut sirkus sekaligus komedian, memenangkan kursi Kongres untuk Sao Paulo dengan lebih dari 1,3 juta suara.

Tiririca, yang memiliki nama asli Francisco Everardo Oliveira Silva, menggunakan slogan kampanye yang menyindir peran politikus, termasuk pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya dilakukan seorang anggota kongres.

Ia kemudian menjabat selama empat periode berturut-turut dan kembali mencalonkan diri untuk periode kelima mewakili negara bagian Ceara. Pada 2022, ia memperoleh sekitar 70 ribu suara.

Kandidat Unik Bisa Berpengaruh pada Perolehan Kursi Partai

Profesor ilmu politik dari Universitas Insper di Sao Paulo, Carlos Melo, menjelaskan bahwa sistem pemilu proporsional Brasil membuat suara yang diperoleh kandidat juga dapat berkontribusi terhadap perolehan kursi partainya.

“Beberapa kandidat ini memiliki cukup suara untuk memenangkan kursi mereka sendiri, tetapi yang lain hanya menambahkan 1.000 atau 2.000 suara untuk partai mereka. Mereka tidak mendapatkan kursi, tetapi mereka membantu partai mereka mengamankan bagian yang lebih besar dari Kongres dan dana publik,” kata Melo.

Menurut Melo, meningkatnya jumlah kandidat unik juga berkaitan dengan perubahan dalam politik Brasil. Ia menilai sebagian kandidat dapat menarik pemilih yang kecewa terhadap politik tradisional.

Sementara itu, Plínio Trump mengaku menggunakan sosok Trump bukan hanya karena kemiripan fisik. Ia juga menjadikan Trump sebagai referensi politik sayap kanan.

“Kami memiliki sedikit pilihan di sayap kanan di Brasil. Bagi saya, Trump adalah referensi sayap kanan,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan kampanye di Juiz de Fora, Plínio Trump bersiap kembali ke Varginha, kota yang dikenal luas di Brasil karena dugaan penampakan UFO. Ia berkampanye menjelang pemungutan suara yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Oktober 2026.