Surabaya – Peneliti dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) merilis temuan terbaru terkait paparan partikel plastik halus atau mikroplastik dalam tubuh manusia. Paparan ini dinilai membahayakan kesehatan, terutama bagi ibu hamil dan janin.
Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, mengungkapkan pihaknya telah mendeteksi keberadaan mikroplastik dalam berbagai sampel biologis manusia.
Dalam riset kolaborasi Ecoton bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dilakukan pengujian terhadap 42 ibu hamil di Gresik. Hasilnya, 100 persen sampel air ketuban (amnion) yang diperiksa terdeteksi mengandung mikroplastik.
“Kami telah melakukan uji terhadap 42 amnion atau air ketuban ibu melahirkan di Gresik dan 100 persen mengandung mikroplastik,” kata Rafika, Senin (23/2).
Jenis Mikroplastik yang Ditemukan
Rafika menjelaskan, seluruh partikel yang terdeteksi berukuran lebih besar dari 0,45 mikrometer (µm). Jenis mikroplastik yang ditemukan berupa fiber dan fragmen.
Adapun polimer yang paling dominan adalah polyethylene. Jenis ini umumnya berasal dari botol air minum dalam kemasan, plastik bening wadah makanan panas, tas kresek, hingga gelas plastik.
“Jenis polimer yang mendominasi adalah jenis polyethylene berasal dari botol plastik air minum dalam kemasan, plastik bening wadah makanan panas, tas kresek, gelas plastik,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi ini menandai era baru, yakni era mikroplastik. Menurutnya, situasi menjadi ironis karena rahim yang selama ini dianggap sebagai tempat paling aman bagi manusia justru telah tercemar partikel plastik.
Rafika menyimpulkan kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai untuk wadah makanan dan minuman meningkatkan risiko paparan mikroplastik dalam tubuh.
“Ditemukannya mikroplastik dalam ketuban ini akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan bayi,” ucapnya.
Temuan Perkuat Riset Sebelumnya
Peneliti Ecoton lainnya, Sofi Azilan Aini, mengatakan hasil penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya yang mendeteksi mikroplastik dalam air susu ibu (ASI).
“Riset mikroplastik Ecoton sejak 2017 hingga kini telah mendeteksi adanya mikroplastik dalam feses, air susu ibu, air seni, ketuban dan dalam darah perempuan, ini seperti kutukan akibat kita menyia-nyiakan sampah plastik,” ucapnya.
“Pemakaian plastik sekali pakai dan membuang tanpa pengolahan yang layak pada akhirnya plastik yang kita buang akan kembali ke tubuh kita,” tambahnya.
Indonesia dan Krisis Sampah Plastik
Kondisi ini diperparah dengan posisi Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik ke laut terbesar ketiga di dunia. Polusi semakin masif akibat praktik pembakaran sampah dan pembuangan ke aliran sungai.
Dampaknya, penduduk Indonesia tercatat sebagai konsumen mikroplastik tertinggi di dunia dengan rata-rata konsumsi mencapai 15 gram per bulan.
Ancaman paling serius berada pada sistem peredaran darah. Partikel mikroplastik yang menetap di organ vital berpotensi memicu kerusakan sel serta kegagalan fungsi organ yang membahayakan kehidupan.
Data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) 2023 mencatat timbunan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton. Sebanyak 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola, dengan 7,8 juta ton merupakan sampah plastik.
Ironisnya, 57 persen sampah masih ditangani dengan cara dibakar, yang justru mempercepat penyebaran mikroplastik ke udara.
Mikroplastik Tembus Jaringan Otak
Selain ditemukan dalam darah dan ketuban, riset kolaboratif antara Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada Maret 2025 mengungkap mikroplastik telah menembus jaringan otak manusia.
Partikel tersebut diduga dapat menurunkan kemampuan kognitif serta mengganggu fungsi saraf. Studi global yang dirujuk dalam penelitian itu menunjukkan konsentrasi plastik di otak manusia bisa 7 hingga 30 kali lebih tinggi dibandingkan organ hati maupun ginjal.
Bahkan, konsentrasi plastik di otak dilaporkan meningkat hingga 50 persen dalam delapan tahun terakhir.
Imbauan Kurangi Plastik Sekali Pakai
Sebagai langkah mitigasi, Ecoton meminta masyarakat, khususnya Generasi Z, untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta menghindari produk kosmetik yang mengandung microbeads atau scrub plastik.
“Sebagai Gen Z kita harus mau menghindari produk kosmetik yang mengandung scrub plastik, karena mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, melalui mulut dan melalui kulit,” pungkasnya.

