Jakarta — Kenaikan biaya hidup membuat banyak masyarakat semakin kesulitan mengatur keuangan pribadi. Harga kebutuhan pokok, biaya sewa tempat tinggal, transportasi, hingga tagihan bulanan yang terus meningkat membuat gaji terasa cepat habis sebelum akhir bulan.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan soal relevansi metode budgeting 50/30/20 yang selama ini cukup populer. Metode ini membagi pendapatan menjadi 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen keinginan, dan 20 persen tabungan atau investasi.
Bagi sebagian masyarakat dengan penghasilan terbatas, formula tersebut dinilai semakin sulit diterapkan. Di sisi lain, ada pula yang merasa porsi tabungan 20 persen belum cukup untuk mengejar target finansial besar seperti membeli rumah atau mempersiapkan dana pensiun.
Apakah Metode 50/30/20 Masih Relevan?
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, menilai metode 50/30/20 masih relevan digunakan hingga saat ini. Namun, menurutnya, pembagian tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai aturan baku yang kaku.
“Konsep 50/30/20 ataupun konsep-konsep pengaturan keuangan pribadi yang lain masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Harus dipahami adalah agar semakin relevan dengan kondisi kita, maka angka-angka tersebut harus fleksibel mengikuti situasi dan kondisi, bukan sekadar angka baku yang tidak boleh berubah,” ujarnya, Jumat (22/5).
Andi menjelaskan, ketika kebutuhan pokok semakin besar sementara pemasukan tidak bertambah, pengeluaran yang sebaiknya lebih dulu dikurangi adalah pos hiburan atau kesenangan.
Menurutnya, kebutuhan hiburan masih dapat ditunda dibandingkan tabungan yang berfungsi sebagai cadangan untuk kebutuhan masa depan.
“Sebaiknya dikurangi terlebih dahulu adalah pengeluaran untuk kesenangan. Alasannya kebutuhan kesenangan sifatnya sebenarnya tidak terlalu penting dan urgent, dan masih bisa untuk ditunda konsumsinya,” katanya.
Meski demikian, Andi mengakui banyak orang justru lebih memilih mengurangi tabungan demi mempertahankan gaya hidup atau hiburan. Hal itu terjadi karena manfaat dari pengeluaran hiburan dapat dirasakan langsung, sedangkan hasil menabung baru terlihat dalam jangka panjang.
Menabung Tetap Penting Meski Nominal Kecil
Andi menilai porsi tabungan atau investasi sebesar 20 persen sebenarnya sudah cukup ideal. Namun, nominal tersebut masih bisa ditingkatkan jika kondisi keuangan memungkinkan, terutama bagi mereka yang memiliki target finansial besar.
“Kalau target finansialnya besar dan kondisinya memungkinkan, maka tidak ada salahnya bila porsinya juga diperbesar sampai semaksimal yang mampu kita penuhi,” ujarnya.
Ia mencontohkan kelompok lajang tanpa tanggungan atau masyarakat dengan penghasilan jauh di atas kebutuhan bulanan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan investasi.
Sebaliknya, bagi masyarakat dengan pendapatan terbatas, pengurangan sementara pada porsi tabungan juga bukan hal yang salah selama kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
“Bukan hal yang haram juga apabila perlu mengurangi porsi menabung atau berinvestasinya misal jadi 10 persen. Jangan menabung dulu bila karena menabung justru bikin kita jadi kesulitan makan,” katanya.
Menurut Andi, masyarakat dengan gaji pas-pasan tetap perlu membangun kebiasaan menabung dengan nominal yang realistis dan tidak memberatkan.
“Menabung dengan persentase yang tidak memberatkan mereka, sehingga meskipun menabung mereka masih bisa makan dan berbagai kebutuhan lainnya yang penting dan wajib masih dapat terpenuhi dengan baik,” ujarnya.
Alternatif Metode Budgeting yang Lebih Fleksibel
Selain metode 50/30/20, Andi juga menawarkan beberapa alternatif pengaturan keuangan yang dinilai lebih fleksibel sesuai kondisi ekonomi saat ini.
Salah satunya pembagian:
- 55 persen kebutuhan sehari-hari dan cicilan
- 10 persen tabungan atau investasi
- 10 persen pengembangan diri
- 10 persen hiburan
- 10 persen dana darurat
- 5 persen dana amal
Ada juga metode 10/20/30/40 yang membagi pengeluaran menjadi:
- 10 persen dana amal
- 20 persen tabungan
- 30 persen kewajiban
- 40 persen kebutuhan sehari-hari
“Konsep manapun yang dipilih, sesuaikan dengan kemampuan dan kondisi kita, dan disiplin dalam menjalankannya,” kata Andi.
Fokus pada Tujuan Keuangan
Pandangan serupa juga disampaikan perencana keuangan Mike Rini Sutikno. Menurutnya, metode 50/30/20 tetap relevan, tetapi lebih tepat dijadikan sebagai panduan dasar, bukan aturan wajib untuk semua orang.
“Yang penting bukan angkanya yang tepat atau harus exactly 50/30/20, tapi prinsip dasarnya yaitu memisahkan kebutuhan, keinginan, dan tabungan,” ujar Mike.
Ia menjelaskan metode tersebut pertama kali dipopulerkan Senator Amerika Serikat Elizabeth Warren pada 2005. Namun, kondisi ekonomi saat ini sudah jauh berubah akibat inflasi, kenaikan biaya hidup, dan tekanan suku bunga.
Mike menyarankan masyarakat untuk melakukan audit pengeluaran terlebih dahulu sebelum memangkas pos tertentu. Menurutnya, penting untuk memetakan mana pengeluaran yang benar-benar kebutuhan dan mana yang sebenarnya hanya gaya hidup.
Ia mencontohkan makan adalah kebutuhan, tetapi frekuensi makan di restoran merupakan pilihan. Begitu pula penggunaan listrik yang masih dapat dihemat dengan penggunaan perangkat elektronik secara lebih efisien.
“Kalau kita mau melakukan penghematan, kita perlu tahu dulu mana yang sebenarnya kebutuhan dan mana yang keinginan,” katanya.
Mike juga menilai pendekatan berbasis persentase sering kali tidak cukup untuk mencapai target finansial tertentu. Karena itu, ia menyarankan penggunaan metode goal-based budgeting atau pengaturan keuangan berdasarkan tujuan.
Dalam metode tersebut, seseorang menentukan target keuangan lebih dulu, seperti membeli rumah atau menyiapkan dana pensiun. Setelah target dan jangka waktunya ditentukan, baru dihitung jumlah tabungan yang dibutuhkan setiap bulan.
“Kalau 20 persen enggak cukup berarti perlu ditambah. Jadi pendekatannya jangan persentase, tetapi berdasarkan tujuan keuangan,” ujarnya.
Penghasilan Rendah Perlu Fokus Tambah Pemasukan
Menurut Mike, masyarakat dengan penghasilan rendah juga perlu mempertimbangkan upaya meningkatkan pendapatan, misalnya melalui pelatihan keterampilan tambahan atau usaha sampingan.
Meski begitu, kebiasaan menabung tetap perlu dibangun secara bertahap sesuai kemampuan.
“Daripada target 20 persen, mulai dengan yang lebih realistis. Contoh nabung Rp50 ribu per bulan, kalau enggak sanggup ya Rp20 ribu. Intinya membangun kebiasaannya dulu,” katanya.
Mike menambahkan metode budgeting saat ini semakin beragam, mulai dari zero-based budgeting hingga sistem amplop digital melalui aplikasi perbankan.
Menurutnya, tidak ada metode pengaturan keuangan yang benar-benar cocok untuk semua orang karena kondisi finansial dan psikologis setiap individu berbeda.
“Metode budgeting mau 50/30/20, 30/30/10, atau bahkan 50/50, prinsip dasarnya sebenarnya membantu orang untuk menjadi lebih mindful spending,” ujarnya.

