Jakarta — Amerika Serikat (AS) resmi mencatat sejarah baru di sektor energi global dengan menjadi eksportir minyak terbesar dunia. Posisi yang selama puluhan tahun identik dengan Arab Saudi dan Rusia itu kini berhasil direbut Negeri Paman Sam berkat lonjakan produksi energi domestik dan meningkatnya permintaan dari pasar internasional.

Berdasarkan data perusahaan pelacak kapal Vortexa, ekspor minyak mentah dan bahan bakar AS mencapai sekitar 10,5 juta barel per hari (bph) pada Mei 2026. Capaian tersebut menempatkan AS sebagai eksportir minyak terbesar dunia selama tiga bulan berturut-turut.

Sebagai perbandingan, ekspor minyak Rusia pada periode yang sama tercatat sekitar 7 juta bph, sedangkan Arab Saudi berada di angka 5,9 juta bph. Perbedaan tersebut menunjukkan perubahan signifikan dalam peta perdagangan energi global yang selama ini didominasi negara-negara produsen minyak tradisional.

Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi AS yang selama beberapa dekade pernah bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Bahkan pada 1973, AS sempat terdampak embargo minyak yang diberlakukan negara-negara Arab sebagai respons atas dukungannya kepada Israel.

Transformasi besar mulai terlihat sejak 2010 ketika produksi minyak dan gas serpih (shale oil and gas) meningkat tajam. Revolusi energi tersebut mendorong AS menjadi produsen gas terbesar dunia, sebelum kemudian berkembang menjadi produsen minyak terbesar secara global.

Posisi AS sebagai eksportir minyak terbesar semakin menguat setelah terganggunya pasokan dari sejumlah negara produsen utama. Sejak Februari 2026, perang AS-Iran disebut berdampak terhadap ekspor minyak Arab Saudi. Pada saat yang sama, ekspor Rusia juga mengalami tekanan akibat serangan drone Ukraina serta sanksi yang dijatuhkan Washington terkait konflik di Ukraina.

“Washington memiliki alat baru yang sebelumnya tidak mereka sadari sebelum perang Iran, yaitu ekspor energi,” kata Kepala Kebijakan Kpler, Michelle Brouhard, Kamis (11/6), dikutip dari Reuters.

Perubahan tersebut terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Pada 2025, Arab Saudi masih mencatat ekspor sekitar 8,1 juta bph, lebih tinggi dibandingkan AS yang berada di level 6,6 juta bph. Namun gangguan pasokan dari Timur Tengah dan Rusia membuat ekspor minyak AS melonjak signifikan sepanjang tahun ini.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di pasar energi global. Dominasi baru AS diperkirakan dapat mengurangi pengaruh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) beserta sekutunya dalam menentukan arah pasokan dan harga minyak dunia.

Selain memiliki kekuatan ekonomi, militer, dan dominasi dolar AS dalam sistem keuangan internasional, posisi sebagai eksportir minyak terbesar dunia kini memberikan instrumen tambahan bagi Washington dalam membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara mitra maupun rivalnya.

“Anda bisa melihat sekarang pengaruh yang dimiliki Amerika Serikat terhadap sejumlah negara karena mereka bergantung pada pasokan minyak dan gas dari AS,” ujar Brouhard.

Data Reuters menunjukkan Eropa menjadi pasar utama ekspor minyak AS sepanjang 2026 dengan porsi sekitar 47 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan 37 persen pada 2021.

Sementara itu, negara-negara Asia yang selama ini mengandalkan pasokan minyak dari Timur Tengah juga mulai meningkatkan impor dari AS. Pada Mei 2026, kawasan Asia menyerap sekitar 46 persen ekspor minyak AS, naik dari sekitar 37 persen pada tahun sebelumnya.

Dari sisi produksi, output minyak dan cairan energi AS hampir meningkat tiga kali lipat sejak tahun 2000 hingga mencapai sekitar 22 juta bph. Sebaliknya, produksi Arab Saudi cenderung berada pada kisaran 10 juta hingga 12 juta bph mengikuti kebijakan kuota OPEC, sementara produksi Rusia stagnan di bawah 10 juta bph dalam beberapa tahun terakhir.

Peneliti Baker Institute for Public Policy, Kenneth Medlock III, menilai dominasi minyak AS memiliki karakteristik berbeda dibandingkan Arab Saudi maupun Rusia. Menurutnya, pertumbuhan ekspor AS lebih banyak didorong oleh keputusan bisnis perusahaan swasta dibandingkan kebijakan langsung pemerintah.

“Ini mirip dengan peran yang selama ini dimainkan OPEC dan Arab Saudi melalui kapasitas produksi cadangan, tetapi lebih merupakan mekanisme pasar daripada instrumen strategis,” ujar Medlock.