Jakarta — Sausan Sarifah menjadi salah satu korban selamat dalam kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada Senin (27/4) malam. Dalam insiden tersebut, ia sempat terlempar hingga tersangkut di rak bagasi kereta.

Yuli, keluarga Sausan, menceritakan kronologi kejadian berdasarkan penuturan korban. Saat itu, Sausan tengah duduk di sisi kiri sambil bermain ponsel sebelum terdengar benturan keras.

“Posisi duduk di sebelah kiri. Dia lagi main HP, tiba-tiba bunyi ‘brak’ gitu. Ingat-ingat sudah di atas rak yang biasa kita naruh-naruh barang di KRL. Nah dia udah di situ. Di bawah dia ada penumpang, di atas dia juga ada. Jadi sudah ketumpuk-tumpuk,” ujar Yuli di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Selasa (28/4).

Akibat benturan dan himpitan saat kejadian, Sausan mengalami patah tulang serta luka robek di bagian kaki. Ia telah menjalani operasi bedah tulang untuk penanganan lebih lanjut.

“Kondisinya Alhamdulillah dari jam 2 siang sampai Maghrib tadi baru selesai operasi. Di sebelah kiri ya, tangan sebelah kiri sini patah, pahanya sobek. Hanya itu sih, jadi tindakan tadi operasi,” kata Yuli.

Sebelum mengetahui kondisi Sausan, keluarga yang tinggal di Tambun sempat mengira kabar kecelakaan tersebut sebagai modus penipuan. Ibu korban awalnya mengabaikan panggilan dan pesan dari nomor tak dikenal yang mengabarkan kejadian tersebut.

“Tahunya pas kejadian itu ditelfonin terus karena ibunya merasa nomor asing nggak kenal, dia jadi ‘ah nggak ah takut’. Terus ada chat WA: ‘Ibu anaknya kecelakaan’. Biasa kan suka ada WA-WA yang gitu ya, hoaks gitu yang minta uang. ‘Bu anak kecelakaan’ gitu,” jelas Yuli.

Kepastian baru didapat setelah adik korban mengangkat telepon dan menerima foto kondisi Sausan yang sudah berada di peron. Keluarga kemudian langsung menuju lokasi kejadian.

Yuli juga mengungkapkan bahwa pada hari kejadian, Sausan tengah menjalankan ibadah puasa dan hanya sempat berbuka dengan teh manis serta roti.

“Anaknya baik, solehah, religius. Kebetulan dia lagi puasa ya hari itu, puasa baru minum teh manis sama roti. Jadi pikiran dia hanya mau sampai rumah mau langsung makan,” ujarnya.

Sebelumnya, kecelakaan bermula ketika KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan. Dalam kondisi jalur terganggu, KA Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta–Surabaya yang melaju dari belakang tidak sempat berhenti sepenuhnya dan menabrak KRL, tepatnya di gerbong wanita, dengan kecepatan sekitar 110 km per jam.

Hingga berita ini diturunkan, sebanyak 15 penumpang dilaporkan meninggal dunia.