Jakarta — Korea Selatan (Korsel), yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia, mulai menunjukkan tanda-tanda kenaikan angka kelahiran. Meski demikian, sebagian warga masih ragu untuk memiliki anak walaupun pemerintah telah menggelontorkan berbagai subsidi dan bantuan.
Berdasarkan data kementerian statistik Korea Selatan yang dikutip AFP, tingkat kesuburan negara tersebut sempat menyentuh titik terendah pada 2023 sebelum mulai mengalami peningkatan.
Jumlah kelahiran bayi tercatat terus meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Februari lalu, sekitar 23 ribu bayi lahir, menjadi angka tertinggi untuk bulan Februari dalam tujuh tahun terakhir.
Secara tahunan, pertumbuhan kelahiran mencapai 13,6 persen, tertinggi untuk bulan Februari sejak pencatatan dimulai pada 1981.
Peningkatan angka kelahiran juga terjadi seiring kenaikan angka pernikahan sejak pertengahan 2022, meski pertumbuhannya belum merata.
Sejumlah ahli menilai perubahan ini mencerminkan sikap generasi muda Korea Selatan yang mulai lebih terbuka terhadap kehidupan berkeluarga. Namun, masih terdapat perbedaan pandangan terkait faktor utama yang mendorong peningkatan tersebut, termasuk efektivitas kebijakan pronatalis pemerintah.
Subsidi Pemerintah untuk Dorong Kelahiran
Kim Su-jin, 32 tahun, seorang pekerja lepas di industri musik, melahirkan putrinya pada Januari 2025. Ia mengaku sebelumnya sempat khawatir soal kondisi finansial selama empat tahun pernikahannya.
Namun, ia akhirnya memutuskan memiliki anak setelah menepis berbagai kekhawatiran terkait tempat tinggal, pendidikan, hingga pekerjaan.
“Karena kami percaya bahwa memiliki (bayi) akan membawa kebahagiaan bagi kami,” katanya kepada AFP.
Pemerintah Korea Selatan diketahui telah mengalokasikan anggaran besar untuk meningkatkan angka kelahiran dan mengurangi dampak penurunan populasi.
Kim Woo-jin, 33 tahun, mengatakan bantuan pemerintah cukup membantu mengurangi beban biaya kehamilan, persalinan, hingga pengasuhan anak.
Ia mengaku menerima pembayaran sebesar dua juta won saat putrinya lahir tahun lalu, ditambah voucher satu juta won untuk biaya persalinan, subsidi transportasi, serta perawatan pascapersalinan.
“Saya percaya bahwa peningkatan signifikan (dukungan negara) … berperan dalam peningkatan angka kelahiran baru-baru ini,” ujar pekerja kantoran tersebut.
Selain itu, pemerintah juga memberikan tunjangan bulanan sebesar satu juta won selama tahun pertama bayi. Kebijakan lain mencakup pinjaman berbunga rendah untuk keluarga muda yang membeli rumah, perluasan cuti orang tua, hingga subsidi perawatan kesuburan.
Sejumlah perusahaan di Korea Selatan bahkan memberikan bonus besar kepada karyawan yang memiliki anak.
Masalah Sosial Masih Jadi Kekhawatiran
Meski berbagai insentif telah diberikan, sebagian warga menilai persoalan memiliki anak bukan hanya soal bantuan finansial.
Kim Su-jin menilai dukungan pemerintah masih belum cukup menyelesaikan persoalan yang lebih besar di masyarakat.
“Masalah ini bukan sekadar masalah beberapa juta won,” katanya.
Ia menyinggung tingginya biaya pendidikan tambahan, kasus perundungan di sekolah, hingga kekhawatiran kehilangan pekerjaan akibat perkembangan kecerdasan buatan.
Ahli demografi dari Seoul National University (SNU), Lee Sang-lim, mengatakan masih sulit menyimpulkan bahwa kebijakan terbaru pemerintah menjadi penyebab langsung kenaikan angka kelahiran.
Menurutnya, sejumlah kebijakan baru mulai diterapkan pada awal 2024, kurang dari sembilan bulan sebelum kenaikan angka kelahiran terlihat.
Ia menilai kebijakan pemerintah selama lebih dari satu dekade kemungkinan membantu memperbaiki lingkungan bagi persalinan dan pengasuhan anak.
Tingkat Kesuburan Korsel Masih Rendah
Tingkat kesuburan total Korea Selatan meningkat dari 0,75 menjadi 0,8 pada tahun lalu. Namun angka tersebut masih jauh di bawah ambang 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas populasi.
Pejabat kementerian urusan data Korea Selatan, Park Hyun-jung, mengatakan peningkatan tersebut juga dipengaruhi kelompok kelahiran awal 1990-an yang kini memasuki usia subur.
Di sisi lain, generasi muda Korea Selatan disebut mulai lebih terbuka terhadap kelahiran anak di luar pernikahan. Data resmi menunjukkan jumlahnya hampir dua kali lipat antara 2002 hingga 2024.
Meski begitu, kelahiran di luar pernikahan masih hanya menyumbang sekitar 5,8 persen dari total kelahiran pada 2024.
Lee Sang-lim menilai kenaikan terbaru lebih banyak dipicu pernikahan dan kelahiran yang sempat tertunda selama pandemi.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan angka kelahiran saat ini belum bisa disebut sebagai titik balik demografis karena tren tersebut masih berpotensi kembali menurun.
Sementara itu, ekonom Hong menilai dukungan kebijakan yang agresif dan berkelanjutan tetap diperlukan agar pemulihan angka kelahiran dapat berlangsung dalam jangka panjang.

