Jakarta — Bank Jakarta telah menyalurkan pembiayaan sekitar Rp48 miliar kepada 167 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Pembiayaan tersebut diberikan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Non-KUR untuk membantu pelaku usaha memperoleh akses permodalan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan penyaluran pembiayaan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas akses modal bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Pasar Induk Kramat Jati.
Hal itu disampaikan Rano saat menghadiri dan menyaksikan penandatanganan Akad Kredit Massal Bank Jakarta bagi 100 orang pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9).
Dari total lebih dari 5.000 pelaku usaha yang beraktivitas di Pasar Induk Kramat Jati, Bank Jakarta sejauh ini telah menyalurkan program pembiayaan kepada 167 pedagang dengan nilai sekitar Rp48 miliar.
“Hari ini kita memperluas akses pembiayaan bagi pedagang pasar induk di Kramat Jati ini. Ini penting sekali, karena pedagang membutuhkan kepastian modal kerja untuk menjaga keberlangsungan usaha,” kata Rano dalam keterangan tertulis.
Program pembiayaan tersebut memiliki plafon pinjaman hingga Rp500 juta. Rano berharap dukungan permodalan itu dapat membantu pedagang meningkatkan kapasitas usaha sekaligus mendorong kesejahteraan mereka.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi Bank Jakarta dengan Perumda Pasar Jaya yang dinilai memberikan dukungan konkret bagi UMKM dan ekonomi kerakyatan.
Rano berharap akad kredit massal tersebut dapat menarik lebih banyak pedagang Pasar Induk Kramat Jati untuk memanfaatkan program pembiayaan UMKM dari Bank Jakarta.
Namun, menurut Rano, akses terhadap pembiayaan formal perlu diikuti dengan peningkatan literasi keuangan. Pemahaman tersebut dinilai penting agar para pelaku UMKM dapat menerapkan manajemen keuangan yang sehat dan menjaga keberlangsungan usaha.
“Pasti akan ada dialog antara pihak bank dengan pedagang untuk saling membantu manajemen agar usaha lebih berkembang. Mudah-mudahan program ini bisa kita kembangkan di pasar-pasar yang lain,” ujarnya.
Bank Jakarta Siapkan KUR hingga Rp100 Juta
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan program pembiayaan tersebut bukan sekadar kegiatan penyaluran kredit. Menurutnya, program itu merupakan bagian dari upaya Bank Jakarta memperluas akses keuangan bagi pelaku usaha mikro agar dapat berkembang dan naik kelas.
Bank Jakarta menyediakan pembiayaan melalui program KUR maupun Non-KUR.
“Kami tidak ingin pedagang yang sibuk mencari bank. Bank Jakarta yang harus semakin dekat dan hadir di tengah-tengah pedagang,” katanya.
Untuk program KUR, pedagang dapat memperoleh plafon pinjaman hingga Rp100 juta tanpa jaminan. Sedangkan melalui program Non-KUR, pedagang dapat menggunakan lapak dagangannya sebagai jaminan.
Program Non-KUR menyediakan plafon pinjaman hingga Rp500 juta dengan bunga sekitar 10 persen per tahun.
Agus mengatakan dukungan pembiayaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyaluran kredit, tetapi memberikan dampak terhadap perkembangan usaha para pedagang.
“Bagi Bank Jakarta, keberhasilan bukan diukur dari seberapa besar kredit yang disalurkan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pembiayaan membuat usaha pedagang berkembang, omzet bertambah, lapangan kerja tercipta dan semakin banyak UMKM Jakarta naik kelas,” ujarnya.

