JAKARTA – Korea Utara kembali menegaskan sikapnya terkait program senjata nuklir. Pada Minggu (14/6), Pyongyang menyatakan statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir tidak dapat diubah dan menolak seruan Amerika Serikat (AS) untuk melakukan denuklirisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuan trilateral antara Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang di Tokyo pada Jumat lalu. Dalam pertemuan itu, ketiga negara kembali menegaskan komitmen mereka terhadap upaya denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea.
Namun, Korea Utara memberikan respons yang berseberangan.
Dalam pernyataan yang diterbitkan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) dan dikutip AFP, seorang juru bicara Korea Utara menyatakan bahwa berbagai seruan dari AS dan sekutunya tidak akan memengaruhi posisi negaranya.
“Retorika tak berarti AS dan pasukan bawahannya terhadap DPRK… tidak akan pernah memengaruhi posisi DPRK yang tak dapat diubah sebagai negara pemilik senjata nuklir,” ujar juru bicara tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa isu denuklirisasi tidak lagi menjadi pembahasan bagi negaranya.
“‘Denuklirisasi’ adalah masalah yang telah diselesaikan secara permanen,” tambahnya.
Dalam pernyataan itu, Korea Utara menggunakan akronim DPRK (Democratic People’s Republic of Korea), sementara Korea Selatan disebut dengan nama resminya, Republic of Korea (ROK).
Juru bicara tersebut turut menyinggung penjualan sistem persenjataan Amerika Serikat kepada Korea Selatan dan Jepang. Menurutnya, langkah tersebut menjadi alasan bagi Korea Utara untuk terus mengembangkan kemampuan nuklir sebagai bagian dari jaminan keamanan nasional.
Dia menggambarkan program nuklir negaranya sebagai “jaminan keamanan yang kuat untuk stabilitas dan perdamaian regional.”
“Tidak peduli seberapa keras AS, Jepang, dan ROK berdebat, mereka tidak akan pernah mengubah posisi DPRK saat ini sebagai negara pemilik senjata nuklir,” katanya.
Korea Utara diketahui semakin mempercepat pengembangan program senjata nuklirnya setelah perundingan dengan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan pada 2019. Saat itu, pertemuan antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump di Hanoi, Vietnam, berakhir tanpa hasil.
Belum lama ini, Kim Jong Un juga menjamu Presiden China Xi Jinping di Pyongyang setelah Xi melakukan pertemuan dengan Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

